Memperbarui Kurikulum Berbasis Karakter

Oleh RIFA ROFIFAH

(Mahasiswi Pendidikan Kimia Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Universitas Pendidikan Indonesia)

ABSTRAK

DARI masa ke masa kurikulum yang terdapat di setiap negara berubah yang menurut sebagian pakar disebabkan karena kebutuhan masyarakat yang terus berkembang. Di samping itu kondisi dan tuntutan zaman pun memaksa pada perubahan atau perkembangan kurikulum dalam pendidikan itu sendiri agar dapat menyesuaikan termasuk yang terjadi di Indonesia yang mana telah mengalami beberapa kali perubahan kurikulum. Adanya perubahan dan pergantian kurikulum diharapkan dapat menghasilkan inovasi yang baru atau perubahan yang membawa dampak menuju ke arah perbaikan. Pendidikan sebagai gerbang utama menanamkan nilai kesadaran generasi muda diharapkan mampu mencetak kompetensi lulusan yang mampu mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan pro-aktif) dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dapat menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.

PEMBAHASAN

Pembangunan dalam bidang pendidikan (Mafhudin, 2008: 1) merupakan bagian yang sangat penting dan strategis dari keseluruhan program pembangunan. Salah satu dari tujuan pendidikan adalah untuk meningkatkan sumber daya manusia untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang, yang dibutuhkan bagi peningkatan kesejahteraan, kemajuan dan ketangguhan bangsa Indonesia untuk mampu bersaing dalam era global ini.

Membahas tentang pendidikan dan perkembangannya tidak terlepas dari persoalan atau berkaitan erat dengan kurikulum, karena kurikulum merupakan salah satu alat yang dapat memecahkan permasalahan dalam dunia pendidikan. Dalam proses pendidikan, kurikulum (Mafhudin, 2008: 2) ditempatkan pada posisi sentral, dimana proses pendidikan tersebut seakan dikendalikan, diatur dan dinilai berdasarkan kriteria yang ada dalam kurikulum.

Berkenaan mengenai kurikulum tidak terlepas dari perkembangan dan pembaharuannya. Adanya perubahan dan pergantian kurikulum diharapkan dapat menghasilkan inovasi yang baru atau perubahan yang membawa dampak menuju ke arah perbaikan, serta tentunya sebuah perubahan selalu disertai dengan konsekuensi-konsekuensi yang sebaiknya harus dipertimbangkan dahulu agar tidak terjadi ketimpangan dan tumbuh menjadi sebuah kebijakan yang baik.

Adanya perubahan pada perangkat pendidikan merupakan konsekuensi yang logis dari terjadinya perubahan sistem sosial, budaya, politik, ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang di suatu lingkungan masyarakat berbangsa dan bernegara. Hal ini merujuk pada hakikat kurikulum sebagai seperangkat perencanaan pendidikan yang perlu dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di masyarakat.  Oleh karena itu segenap proses perubahan pada kurikulum nasional tidak serta-merta secara asal keluar dan dirancang seadanya, namun melalui proses pemikiran yang terkonsep secara matang berdasarkan juga merujuk pada Pancasila dan UUD 1945, hanya saja perbedaannya pada penekanan pokok dari tujuan pendidikan dan implementasinya atau pendekatan dalam kenyataannya yang ada.

Dari masa ke masa kurikulum yang terdapat di setiap negara berubah-ubah, hal ini yang oleh sebagian pakar pendidikan disinyalir penyebabnya adalah karena kebutuhan masyarakat yang berkembang. Di samping itu kondisi dan tuntutan zaman pun memaksa pada perubahan atau perkembangan kurikulum dalam pendidikan itu sendiri agar dapat menyesuaikan.

Merujuk pada UU No. 20 tahun 2003 yang secara umum menjelaskan tentang strategi pembangunan pendidikan, yang salah satunya melalui pengembangan dan pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang sudah direalisasikan dan dijalankan dari tahun 2006 hingga hampir saat ini yang mencapai kurang lebih tujuh tahun, merupakan kurikulum yang dikembangkan setelah Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang dimulai pada tahun 2004. Setelah KTSP lama dijalankan banyak silang pendapat yang dilayangkan tidak hanya oleh ahli atau pengamat pendidikan seperti dosen, guru dan mahasiswa, namun juga oleh masyarakat yang merupakan orangtua yang memiliki anak yang bersekolah dan mengalami sistem kurikulum yang bersangkutan yang pada masanya dijalankan (KTSP).

Ada banyak permasalahan dalam kurikulum 2006 (KTSP), antara lain: Kurikulum belum sepenuhnya berbasis kompetensi sesuai dengan tuntutan fungsi dan tujuan pendidikan nasional, kompetensi belum menggambarkan secara holistik domain sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Selain itu, isi kurikulum masih terlalu padat yang ditunjukkan dengan ada banyaknya mata pelajaran dan materi yang keluasan dan kesukarannya melampaui tingkat perkembangan usia anak. Kurikulum juga belum peka dan tanggap terhadap perubahan sosial yang terjadi pada tingkat lokal, nasional, maupun global. Dilihat dari segi beberapa kompetensi yang dibutuhkan sesuai dengan perkembangan kebutuhan, misalnya saja pada pendidikan karakter, metodologi pembelajaran aktif, keseimbangan soft skills dan hard skills, kewirausahaan yang belum terakomodasi di dalam kurikulum.

Pengembangan kurikulum kini harus didasarkan pada tantangan masa depan, seperti adanya globalisasi, permasalahan lingkungan hidup, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dll. Ini menjadi adanya persiapan untuk kompetensi yang dipersiapkan untuk menghadapinya. Oleh karena itu, kemampuan berkomunikasi, berpikir jernih dan kritis, kemampuan menjadi warga negara yang bertanggung jawab, kemampuan hidup dalam masyarakat yang global merupakan bagian dari tujuan standar-standar kompetensi yang harus diajarkan. Selain itu harus juga dipertimbangkan dengan keadaan atau suatu fenomena negatif yang harus dihindari yang mengemuka, seperti korupsi, perkelahian pelajar, narkoba, plagiarism, kecurangan dalam ujian serta gejolak-gejolak yang timbul di  masyarakat. Hal ini kemudian menjadi persepsi yang tumbuh di masyarakat yang beranggapan bahwa kurikulum terlalu menitikberatkan pada aspek kognitif, sehingga menganggap jadi beban siswa terlalu berat, dan kurang bermuatan KARAKTER.

Dalam kamus Webster’s New World College Dictionary dan  The American Heritage Dictionary of the English Language, 4th edition, dikatakan; Karakter sebagai sifat khas, kualitas, atau atribut; karakteristik, kualitas penting; pola perilaku atau kepribadian yang ditemukan dalam individu atau kelompok; konstitusi moral,  kekuatan moral; disiplin diri, ketabahan, dll. Kombinasi kualitas atau fitur yang membedakan satu orang, kelompok atau hal, dari yang lain.

Dari definisi diatas, sangat jelas, bahwa karakter adalah kualitas-sifat yang dimiliki oleh seseorang, yang dapat membedakan satu orang atau kelompok dengan orang atau kelompok lain. Lalu mungkin disini perlu dipertanyakan, Apa saja karakter-karakter positif yang mesti dimiliki, dan akhirnya perlu ‘dicangkok’ kan dalam pendidikan kita, sehingga memampukan kita menjadi sukses sejati di era global ini?

Sebelum mengulas pertanyaan di atas, berikut akan dipaparkan terlebih dahulu beberapa fenomena yang berkaitan dengan ‘karakter’ bangsa yang ada saat ini: Di tingkat regional Asia dan Asia Pasifik, Indonesia selalu menduduki peringkat teratas sebagai negara paling korup. Political and Economy Risk Consultancy (PERC), sebuah lembaga konsultan independen yang berbasis di Hongkong, menempatkan Indonesia pada posisi sebagai negara juara korupsi di Asia selama sepuluh tahun lebih secara berturut-turut.

Berdasarkan data yang dirilis KPAI (Komisi perlindungan Anak Indonesia) menunjukkan bahwa 12.026 responden, 87,6% persen anak mengaku pernah mengalami kekerasan di lingkungan sekolah. Dari persentase itu, 29,95% kekerasan dilakukan oleh guru, 42,1% oleh teman sekelas, dan 28% oleh teman lain kelas. Menurut data yang diperoleh dari layanan pengaduan masyarakat Komnas Anak tersebut, dari 139 kasus tawuran yang kebanyakan berupa kekerasan antarpelajar tingkat sekolah menegah pertama dan sekolah menengah atas itu 12 diantaranya menyebabkan kematian. Secara keseluruhan layanan pengaduan masyarakat Komnas Anak menerima 686 pengaduan kasus kekerasan terhadap anak di lingkungan sekolah.

Penelitian yang pernah dilakukan Badan Narkotika Nasional (BNN) menemukan bahwa 50–60% pengguna narkoba di Indonesia adalah kalangan pelajar dan mahasiswa. Total seluruh pengguna narkoba berdasarkan penelitian yang dilakukan BNN dan UI adalah sebanyak 3,8 sampai 4,2 juta.

Gerakan moral Jangan Bugil di Depan Kamera (JBDK) mencatat adanya peningkatan secara signifikan peredaran video porno yang dibuat oleh anak-anak dan remaja di Indonesia. Jika pada tahun 2007 tercatat ada 500 jenis video porno asli produksi dalam negeri, maka pada pertengahan 2010 jumlah tersebut melonjak menjadi 800 jenis. Fakta paling memprihatinkan dari fenomena di atas adalah kenyataan bahwa sekitar 90 persen dari video tersebut, pemerannya berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Sesuai dengan data penelitan yang dilakukan oleh Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. (Okezone.com, 28/3/2012)

Fakta-fakta di atas merupakan segelintir dari fakta-fakta yang ada yang cukup memberikan gambaran tentang krisis karakter bangsa ini. Sebelumnya mungkin pernah terbesit dalam pikiran kita apakah narkoba, seks bebas, plagiarism, kasus kriminal dikalangan remaja maupun fenomena negatif lainnya merupakan akibat dari kurikulum yang salah? Korupsi, apakah guru mengajarkan demikian selama ini? Kenapa lingkungan diluar sekolah tidak menjadi sorotan yang tajam? Haruskah pendidikan yang disalahkan, guru yang disalahkan karena didikannya yang salah, kurikulumnya yang salah?

Dalam hal ini kita tidak bisa menyalahkan kurikulum/sekolah karena dalam hal ini jelas bahwa didikan di luar lingkungan sekolah pun ikut berperan dalam pembentukan karakter individu, bahkan tidak menutup kemungkinan lingkungan tersebut berperan lebih besar dalam mengarahkan anak untuk tawuran, narkoba, plagiarism, contek mencontek dan lain sebagainya. Sifat instan yang diperoleh terkadang dibawa ke sekolah, ketika keluar dari sekolah, maka apakah itu produk dari sekolah?

Sebetulnya ada sembilan pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal, seperti yang dikatakan oleh prof. Suyanto – Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah dalam tulisan di laman Mandikdasmen – yang mesti dikembangkan di Indonesia, yaitu: pertama, karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya; kedua, kemandirian dan tanggungjawab; ketiga, kejujuran/amanah, diplomatis; keempat, hormat dan santun; kelima, dermawan, suka tolong-menolong dan gotong royong/kerjasama; keenam, percaya diri dan pekerja keras; ketujuh, kepemimpinan dan keadilan; kedelapan, baik dan rendah hati, dan; kesembilan, karakter toleransi, kedamaian, dan kesatuan.

Lalu bagaimana pengimplementasian  upaya-upaya untuk menumbuhkan karakter  diatas? Untuk mengimplementasikan hal-hal diatas, karakter yang semestinya dimiliki, diperlukan wadah, tempat penempaan sumber daya manusia. Disinilah diperlukan untuk memberikan penekanan dan perhatian lebih pada lembaga/institusi pendidikan dan pelatihan (baik pendidikan dasar, menengah, SMA-SMK, maupun perguruan tinggi) sebagai kawah untuk penempaan sumber daya manusia itu.

Dengan mengacu pada tujuan pendidikan Nasional yang ada pada UU No.20 tahun 2003 pasal 3 yakni mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab maka kompetensi lulusan yang diharapkan pada kurikulum 2013 ini adalah mampu mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli, santu, ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan pro-aktif) dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dapat menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia. Perubahan proses pembelajaran dari yang awalnya siswa diberitahu menjadi mencari tahu yang salah satu implementasinya adalah dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih banyak berdiskusi dan memikirkan solusi terbaiknya secara individu, sehingga sejak dini mereka dapat lebih peka untuk mengasah pikirannya sendiri karena sejatinya pendidikan adalah gerbang utama dalam menanamkan nilai kesadaran generasi muda, terutama untuk mengasah kepekaan, menjauhkan diri dari segala bentuk perilaku negatif dan hal ini diharapkan bisa menjadi lebih efektif.

Daftar Pustaka

— . (1999). Webster’s New World College Dictionary. New York: Macmillan

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. (2012). Bahan Uji Publik Kurikulum 2013

Kuswandi, Wawan. (2008). Komunikasi Massa (Analisis Interaktif Budaya Massa). Jakarta:           Rineka Cipta. Littlejohn, Stephen W & Karen A Foss

Ruhimat, Toto. (2009). Kurikulum dan Pembelajaran. Bandung: UPI

Srie. (2012). Peringkat Korupsi 2012: Indonesia Masih Jawara di Dunia . Tersedia: [Online].        http://www.srie.org/2012/12/peringkat-korupsi-2012-indonesia-masih.html

       [2 April 2013]

Suyanto. (2009). Pendidikan Karakter. Tersedia:       [Online].http://www.mandikdasmen.depdiknas.go.id/ [1 April 2013]

~ dilihat : 467 kali ~