Martabat Bahasa Indonesia: Ayat-ayat Syukur dalam Kurikulum 2013

1

Laporan BAYU DWI NURWICAKSONO

(Mahasiswa S-2 Pendidikan Bahasa Indonesia, Sekolah Pascasarjana UPI, Delegasi Forum Komunikasi Mahasiswa SPs UPI pada 2nd International Postgraduate Colloquium Research Education 2013 di Universiti Sains Malaysia)

SUDAHKAH Anda mencermati Permendikbud Nomor 67, 68, 69 Tahun 2013 tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum Bahasa Indonesia pada ancangan kurikulum baru 2013? Ada yang menarik pada ancangan kompetensi dasar kurikulum baru ini. Kalau pada kurikulum 2004 atau 2006, kompetensi dasar hanya dipetakan menjadi tiga aspek, yakni sikap, pengetahuan, dan keterampilan, maka pada kurikulum 2013 ada satu aspek tambahan, yakni spiritual. Beginilah salah satu contoh cuplikan kompetensi dasar dari kompetensi inti aspek spiritual tersebut “Menghargai dan mensyukuri keberadaan bahasa Indonesia sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa untuk mempersatukan bangsa Indonesia di tengah keberagaman bahasa dan budaya”. Ayat-ayat kompetensi dasar itu tampaknya sepele dan biasa saja jika kita tidak mensyukurinya. Kita akan merasakan betapa bahasa persatuan merupakan anugerah Tuhan YME jika kita berada di Malaysia.

Juni lalu, ketika saya berkesempatan mengunjungi negeri jiran, Malaysia dan berkesempatan diskusi dengan seorang profesor dari Universiti Sains Malaysia (USM), sungguh saya terharu sekaligus bangga (cinta) terhadap bahasa Indonesia yang masih mampu menjadi tuan di negerinya sendiri. Perasaan itu cukup beralasan karena curahan hati (curhat) guru besar bidang pendidikan bahasa USM menampakkan bahwa saat ini Malaysia baru mulai kembali memberikan perhatian lebih pada bahasa Malaysia sebagai bahasa yang patut diutamakan di negerinya sebagai ciri khas bangsa Melayu. Sekadar diketahui bahwa selama ini Malaysia dihuni oleh tiga etnis-bangsa yang memiliki bahasa sendiri. Di antaranya adalah bangsa Melayu dengan bahasa Malaysia, bangsa Cina dengan bahasa Mandarin, bangsa Tamil dengan bahasa India, dan bahasa Inggris digunakan sebagai bahasa komunikasi resmi selain bahasa Melayu.

Akhir-akhir ini, jika kita bertandang ke Malaysia, kita akan sering menjumpai logo “1” dengan latar belakang bendera Malaysia di papan-papan reklame atau poster yang ditempelkan di mobil atau kendaraan umum. Logo itu merupakan propaganda pembangkit kebangsaan Malaysia kepada warga negara Malaysia yang notabene berasal dari tiga suku utama tersebut yang meliputi Melayu, China, dan India. Langkah-langkah serius yang dilakukan Malaysia dalam hal memajukan bahasanya adalah dengan melakukan langkah-langkah penguatan di dalam negeri baik melalui pendidikan bahasa dan sastra Malaysia di sekolah-sekolah serta di masyarakat maupun dalam usaha membina dan mendorong agar orang banyak menulis karya ilmu atau karya sastra dalam bahasa tersebut.

Malaysia pun membuat berbagai langkah untuk menarik minat orang mancanegara terhadap bahasa Malaysia dengan menyediakan pengajar bahasa dan sastra Malaysia di berbagai perguruan tinggi di luar negeri. Selain menyediakan tenaga pengajar di luar negeri yang biayanya ditanggung Pemerintah Malaysia, Pemerintah Malaysia juga menyediakan dana untuk mengundang para sarjana bahasa dan sastra Indonesia untuk memerhatikan dan membuat penelitian tentang bahasa dan sastra Malaysia yang hasilnya kemudian diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP). Karena langkah-langkah agresif Malaysia itu, banyak ahli mancanegara tentang bahasa dan sastra Indonesia kini hijrah menjadi pemerhati, peneliti, dan penerjemah bahasa Malaysia. Misalnya Dr. Monique Lajoubert dari Perancis, Dr. Wendy Mukherjee dan Harry Aveling dari Australia, Prof. Parnickel dari Rusia, dan lain-lain.

Selain itu pula, koran-koran dan majalah juga memberi ruang besar untuk kritik sastra di Malaysia. Misalnya Koran Berita Harian milik Pemerintah Malaysia. Di samping itu pula, cabang-cabang Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP) di seluruh wilayah di Malaysia menerbitkan tabloid dan majalah lokal yang dibagikan secara gratis. Hal tersebut tentu memanjakan penulis kritik sastra. Sebagai contoh, DBP Pusat di Kuala Lumpur menerbitkan lima majalah yang menampung artikel dan kritik sastra, yakni Dewan Sastera, Dewan Bahasa, Dewan Budaya, Dewan Masyarakat, dan Tunas Cipta (khusus untuk sastrawan muda) yang berbeda dengan majalah Dewan Pelajar yang juga memuat karya sastra untuk pelajar dan remaja pemula. Kritik seni di Malaysia pun berlangsung di bengkel-bengkel penulisan. Setidaknya setiap tiga Minggu ada program Minggu Penulis Remaja (MPR) di kantor DBP Pusat di Kuala Lumpur.

Tak hanya itu, di seluruh kota besar di negara-negara bagian diselenggarakan kemah bimbingan kepenulisan dua bulan sekali. Karya-karya mereka dipantau di majalah Dewan Pelajar dan Tunas Cipta dan koran-koran umum. Kemudian bagi mereka yang sering menanam nama, akan diundang dalam simposium atau perhimpunan penulis muda yang diselenggarakan dua tahun sekali di sebuah tempat wisata. Itu baru yang diselenggarakan Pemerintah dengan fasilitas mewah. Masih ada lagi bengkel-bengkel penulisan yang agak sederhana yang diselenggarakan oleh LSM-LSM kecil atau atas prakarsa swasta yang tidak ada hubungannya dengan sastra namun peduli dengan sastra dengan tujuan untuk menghaluskan jiwa para pegawainya. Bahkan, dalam ujian akhir nasional di Malaysia, mata pelajaran mengarang pun diujikan dalam bentuk penugasan yang kemudian dikoreksi dan diberi catatan oleh sang guru.

Melihat gambaran itu, betapa Malaysia terus meretas bahasa kebangsaan di tengah pluralingual antarbangsa sedangkan kita (bangsa Indonesia) yang telah berikrar menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia sejak 28 Oktober 1928, kini merasa seperti gamang dengan bahasa nasional. Hal itu seperti yang terepresentasikan dalam penggunaan bahasa Indonesia yang ke-Inggris-inggrisan. Bukan tidak boleh menggunakan bahasa Inggris, tapi gunakanlah bahasa Inggris sesuai posisi dan porsinya dalam konteks bahasa Indonesia demi pemartabatan bahasa Indonesia. Setuju?