Mari Lestarikan Observatorium Bosscha

KOMUNITAS SAHABAT BOSSCHA 1

Bandung, UPI

Badan Pelestarian Pusaka Indonesia bekerjasama dengan pihak pengelola Observatorium Bosscha melaksanakan peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia ke – 68, Sabtu (17/8/2013) bertempat di Observarium Bosscha, Lembang, Kabupaten Bandung Barat.  Acara dihadiri oleh para mitra BPPI, diantaranya, Program Studi Manajemen Industri Katering FPIPS UPI, Institut Teknologi Bandung, dan Alumni Astronomi ITB, Paguyuban Pelestari Budaya Bandung (Bandung Heritage), Rumah Kahuripan, Yogyakarta Heritage Society, Jagaddhita, Badan Promosi Pariwisata Kota Bandung, dan yang lainnya.

Acara dibuka dengan menampilkan lagu dan alunan biola oleh anak-anak yang bergabung di Violin Nusantara. Kemudian acara dilanjutkan dengan sambutan oleh Catrini, selaku  Direktur Executif BPPI. Ia menyampaikan selain perayaan Dirgahayu RI, sebenarnya  pada hari ini pun merupakan hari kelahiran BPPI yang ke-9. Pemilihan pelaksanaan kegiatan yang dilaksanakan di Observatorium Bosscha (OB) sebenarnya sudah sejak lama dirancang. Alasan wanita ini bahwa ia melihat perlunya mengamankan OB dari terancamnya tata ruang yang tidak ideal, adanya polusi cahaya dari lingkungan, perlunya didorong dilaksanakan green map yang dapat dipelopori oleh masyarakat sekitar untuk memetakan apa yang ada di lingkungannya terutama yang memiliki keunikan dan sejarah lingkungan. Ia pun melempar gagasan untuk dilaksanakan pembentukan Komunitas Sahabat Bosscha yang peduli dengan pelestarian OB.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Mahaseno Putra Kepala Departemen Astronomi Observatorium Bosscha memaparkan tentang sejarah OB yang dahulu bernama Bosscha Sterrenwacht dibangun oleh Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging (NISV) atau Perhimpunan Bintang Hindia Belanda. Pada rapat pertama NISV, diputuskan akan dibangun sebuah observatorium di Indonesia demi memajukan Ilmu Astronomi di Hindia Belanda. Dan di dalam rapat itulah, Karel Albert Rudolf Bosscha, seorang tuan tanah di perkebunan teh Malabar, bersedia menjadi penyandang dana utama dan berjanji akan memberikan bantuan pembelian teropong bintang. Sebagai penghargaan atas jasa K.A.R. Bosscha dalam pembangunan observatorium ini, maka nama Bosscha diabadikan sebagai nama observatorium ini.

KOMUNITAS SAHABAT BOSSCHA 2Pembangunan observatorium ini sendiri menghabiskan waktu kurang lebih 5 tahun sejak tahun 1923 sampai dengan tahun 1928.Kemudian pada tanggal 17 Oktober 1951, NISV menyerahkan observatorium ini kepada pemerintah RI. Setelah Institut Teknologi Bandung (ITB) berdiri pada tahun 1959, Observatorium Bosscha kemudian menjadi bagian dari ITB. Dan sejak saat itu, Bosscha difungsikan sebagai lembaga penelitian dan pendidikan formal Astronomi di Indonesia. Saat ini OB menjadi Fakultas MIPA – ITB, Observatorium Bosscha memberikan layanan bagi pendidikan sarjana dan pascasarjana di ITB, khususnya bagi Program Studi Astronomi, FMIPA – ITB. Penelitian yang bersifat multidisiplin juga dilakukan di lembaga ini, misalnya di bidang Optika, Teknik Instrumentasi dan Kontrol, Pengolahan Data Digital, dan lain-lain. Bosscha bukan hanya observatorium tertua di Indonesia, tapi juga masih satu-satunya obervatorium besar di Indonesia. Observatorium Bosscha juga mempunyai peran yang unik sebagai satu-satunya observatorium besar di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara sampai sejauh ini.

Salah satu kegiatannya adalah melakukan program pengabdian masyarakat, melalui ceramah, diskusi dan kunjungan terpandu ke fasilitas teropong untuk melihat objek-objek langit, masyarakat diperkenalkan pada keindahan sekaligus deskripsi ilmiah alam raya. Dengan ini Observatorium Bosscha berperan sebagai lembaga ilmiah yang bukan hanya menjadi tempat berpikir dan bekerja para astronom profesional, tetapi juga merupakan tempat bagi masyarakat untuk mengenal dan menghargai sains (berperan sebagai public good).

“Pada tahun 2004, Observatorium Bosscha dinyatakan sebagai Benda Cagar Budaya oleh Pemerintah. Karena itu keberadaan Observatorium Bosscha dilindungi oleh UU Nomor 2/1992 tentang Benda Cagar Budaya. Selanjutnya, tahun 2008, Pemerintah menetapkan Observatorium Bosscha sebagai salah satu Objek Vital nasional yang harus diamankan.  Hal ini karena OB berperan sebagai homebase bagi penelitian astronomi di Indonesia, tentunya merupakan aset negara dan dunia yang harus tetap kita pelihara dan kita jaga agar Observatorium Bosscha tetap bekerja sesuai fungsinya.” Ujarnya.

Lestarikan OB dengan Pemberdayaan Masyarakat

Ketua BPPI I Gede Ardika menyampaikan perayaan hari kemerdekaan bangsa Indonesia ternyata kenyataannya masih banyak masyarakat yang belum merasakan arti kemerdekaan yang sesungguhnya. Rangkaian Dirgahayu RI dan juga BPPI ditindaklanjuti dengan pelaksanaan  Tahun Pusaka Indonesia.  Tujuannnya adalah untuk  merekam apa yang bisa kita lakukan untuk merekam pelestarian pusaka di seluruh Indonesia mencakup lingkungan alam itu sendiri, pelestarian kebudayaan bangsa itu sendiri, dan pelestarian Saudjana.

Ia mengajak masyarakat bangsa ini, dan para pemimpin dapat meneropong jauh ke depan, bukan hanya untuk masa baktinya saja, namun melestarikan bagaimana keberlanjutan yang akan dapat dinikmati generasi selanjutnya.

OBSERVATORIUM BOSSCHADijelaskan ia, untuk melestarikan pusaka perlu mengeliminir pola pikir pola pikir berjangka pendek, hedonis.  Ada tiga hal yang dapat diusulkan harus diupayakan munculnya peran dan fungsi OB selain sebagai  laboratorium.  Pertama diharapkan  dapat berkontribusi secara nasional, bukan hanya menjadi kawasan strategis di wilayah Jawa Barat saja, namun dapat secara nasional menjadi ikon eksistensi bangsa. Kedua dengan adanya UU Cagar Budaya yang baru, maka perlu dilakukan pengelompokan pusaka cagar budaya di tingkat lokal, tingkat propinsi, tingkat nasional.  Walaupun realitasnya peraturan tersebut  belum keluar namun kerangkanya harus sudah dirancang secara nasional.

“Hal ini penting diupayakan bersama dengan memberikan perhatian dan dukungan agar bisa dilestarikan bersama. Semoga tetap ada jalan untuk berdharma bhakti, melakukan pengabdian bagi bangsa Indonesia”, ungkap I Gede Ardika.

Sementara itu, menurut Eka Budianta sebagai seorang Budayawan yang banyak menulis buku-buku pelestarian pusaka Indonesia, mengajak para peserta melakukan perenungan perayaan Dirgahayu RI pada 17 Agustus setiap tahun dapat menggali komitmen sebagai bentuk kecintaan terhadap NKRI, dan tidak hanya dilakukan pada hari itu saja. Merupakan karunia Allah yang paling mahal karena, kita semua dapat menghargai dan memaknai waktu yang tidak bisa tergantikan momentumnya.

Ia menyampaikan rasa bangganya karena kualitas peserta yang hadir yang memiliki semangat yang tepat.  Ia pun dalam kesempatan tersebut mengajak para peserta yang hadir untuk membacakan pembacaan doa bagi para pahlawan yang telah gugur memperjuangkan kemerdekaan bagi bangsa ini, kemudian ia pun para peserta menyanyikan lagu Indonesia raya hal tersebut menunjukkan bahwa kentalnya rasa kebangsaan di hari itu.

OB dan Problematikanya

Dalam kesempatan tersebut dilakukan diskusi mengenai upaya pelestarian OB, yang dirundung oleh beragam permasalahannya. Solusi pertama yang diungkap :

  1. Perlunya keberadaan para pakar dan masyarakat yang mencintai OB yang dapat berfungsi sebagai corong kepada publik untuk memperjuangkan dan mengkomunikasikan pelestarian OB sebagai ikon ilmu pengetahuan bangsa ini.
  2. Bagaimana melakukan upaya pemberdayaan masyarakat di sekitar OB dalam membantu upaya mengurangi polusi cahaya, mensosialisasikan penggunaan tudung lampu di masyarakat.
  3. Bagaimana OB dapat memberikan pelayanan yang optimal kepada masyarakat dengan tetap memperhatikan carryng capacitynya karena pada tahun 2012 saja mereka telah menerima 60 ribu orang.
  4. Luluh suniarso anggota BPPI menyampaikan perlunya didorong untuk dibentuknya  vocal point yang akan memperjuangkan urusan astronomi dan memiliki peran secara birokratis dan memiliki otoritas untuk bidang ini.
  5. Membangkitkan rasa kecintaan terhadap OB dengan memiliki tanggungjawab terhadapnya.  Sesuai paparan Mira P Gunawan Dewan Pakar BPPI yang menyampaikan OB bukanlah milik ITB namun sejak tahun 1959 memang dititipkan kepada ITB, hal ini menjadikan OB merupakan tanggung jawab bersama bangsa.
  6. Perlunya memperjuangkan di tingkat lokal agar OB memiliki tata ruang yang memadai, area pengamatan astronomi yang bersih sejauh radius 2 km.
  7. Perlunya perbaikan beragam sarana OB yang menjadi atraksi wisata yang sustainable.
  8. Mengatasi permasalahan budget untuk pemeliharaan OB yang terbatas.
  9. Menggali potensi OB sebagai sumber inspirasi karya seni dan budaya bangsa diingatkan oleh Gustaff seniman.
  10. Menepis anggapan sulitnya masyarakat dapat berkunjung ke OB
  11. Menjaga keragaman dan melestarikan flora (magnolia, kastuba dan lainnya) dan fauna di kawasan OB
  12. Meningkatkan kepedulian untuk mencintai langit gelap agar dapat menikmati kekayaan astronomi di angkasa yang saat ini bahkan sudah dilindungi oleh UNESCO.  Pada kenyataannya beberapa genarasi dimasa yang akan datang, perlu memproteksi perkembangan dengan belajar dari pengalaman akan warisan budaya bangsa yang datang dari ilham keastronomian budaya bangsa itu sendiri kepada lingkungan dan masyarakat sebagai bagian dari kemanusiaan. Hal ini diungkap oleh Dr. Taufiq Hidayat Ketua Program Studi Sarjana, Magister dan Doktor Astronomi FPMIPA ITB.
  13. Menggali pusaka budaya astronomi bangsa Indonesia. Menikmati kuliner khas Lembang
  14. Membuat Green Map melibatkan masyarakat sekitarTeropong bintang Schmidt
  15. Membentuk komunitas Sahabat Bosscha

Inilah Sahabat Bosscha

Berdasarkan perumusan dari hasil diskusi tersebut maka dilakukan pembentukan Komunitas Sahabat Bosscha, yang merupakan fasilitator untuk mensuport pihak pengelola OB, menghadapi problematikanya. Berdasarkan kesepakatan maka dibentuklah kepengurusannya yaitu :

  1. Ketua: Eka Budianta (Budayawan)
  2. Sekretaris: Wiwien T. Wiyonoputri (Jagaddhita/Tenaga Ahli)
  3. Bendahara: I Gusti Lanang Muliarta (Bankir)
  4. Hubungan Masyarakat: Dewi Turgarini (Akademisi Pariwisata UPI/Jurnalis)

Anggota  dari Komunitas Sahabat Bosscha berjumlah 47 orang, mereka adalah :

  1. Achmad Sjarmidi (Badan Promosi Pariwisata Kota Bandung)
  2. Agus Sudono (Ketua Program Studi Manajemen Industri Katering FPIPS UPI)
  3. Aji Bimarsono (Ketua Paguyuban Pelestari Budaya Bandung)
  4. Asri (Komunitas Aleut)
  5. Adi Rachdian (Paguyuban Pelestari Budaya Bandung)
  6. Adi Nugraha
  7. Budi Darmawan (Himpunan Alumni Astronomi-FPMIPA ITB)
  8. Budi TS Soegijoko
  9. Bhakti Kusuma
  10. Catrini (Dirut Exchecutive BPPI)
  11. Caria Ningsih ((Koord. Bidang Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat  Program Studi Manajemen Industri Katering FPIPS UPI)
  12. Dana (BPPI)
  13. Dewi Djukardi (Roemah Kahuripan)
  14. Dicky Soeria Atmadja
  15. Fadhil Muhammad
  16. Fika Putri
  17. Feni W. C
  18. Gustaff H. Iskandar (Seniman)
  19. Greg Hadi Nitihardjo
  20. Hani Septia Rahmi (Komunitas Aleut)
  21. Her Suganda (BPPI)
  22. I Gede Ardika (Ketua BPPI),
  23. Irfan
  24. Kasih Cakaputra Kamsary
  25. Koko (Paguyuban Pelestari Budaya Bandung)
  26. Like (BPC UGM)
  27. Mahasena Putra (Kepala Departemen Astronomi ITB)
  28. Mira P Gunawan (ITB)
  29. Myke Jeanneta (Jejak Petjinan)
  30. Mogi Raharto (Imah Noong)
  31. Ning Purnomohadi (BPPI)
  32. Premadi W Premadi
  33. Ridwan Hutagalung
  34. Rijadi
  35. Sapwan (Himpunan Alumni Astronomi)
  36. Sisti (AMC)
  37. Sebastian Edwin (Roemah Kahuripan)
  38. Sudarmanto Edris (Forum Fotografi)
  39. Suhadi (BPPI)
  40. Suryadi Siregar (Departemen Astronomi)
  41. Taufiq Hidayat (Ketua Program Studi Sarjana, Magister dan Doktor Astronomi ITB)
  42. Tiara Dewi (Roemah Kahuripan)
  43. Vivera Siregar (Fotografer)
  44. Widjaja Martokusumo
  45. Woro Priatini ((Koord. Bidang Akademik Program Studi Manajemen Industri Katering FPIPS UPI)
  46. Yatny Yulianty
  47. Yeni Stania Martokusumo

Demikianlah kesepakatan yang lahir pada 17 Agustus 2013 sebagai kelahiran Komunitas Sahabat Bosscha yang akan menjaga pelestarian OB sebagai cagar budaya yang harus dilindungi keberadaannya bagi generasi mendatang. (Dewi Turgarini)