Mahasiswa Matematika UPI Kenalkan Ethnomathematics di Ajang ADIC 2013

seminar internasional

Bandung, UPI

Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia kali ini berhasil mengepakan sayap di kancah Internasional. Mewakili UPI, keempat mahasiswa Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA, yakni Salwa Nursyahida, Nilah Karnilah, Roni Galih Mustika, dan Asep Saeful Ulum menunjukkan kepedulian terhadap pengembangan pendidikan dan budaya Indonesia melalui tulisannya.

Paper yang ditulis oleh keempat mahasiswa tersebut berhasil lolos dari proses seleksi dan diseminasikan dalam seminar internasional bertajuk ADIC (Aceh Development International Conferrence) 2013 di University of Malaya, Malaysia (26-28 Maret 2013).

ADIC adalah sebuah forum internasional yang digagas serta diselenggarakan oleh seluruh mahasiswa Aceh yang berada di Malaysia. Tahun ini adalah tahun keempat penyelenggaraan ADIC, hampir 1.000 paper telah terkumpul dalam kurun waktu tersebut. Forum internasional ini dimaksudkan sebagai wadah untuk berbagi pengetahuan dan hasil-hasil penelitian, teori, hingga evaluasi pengimplementasian gagasan demi pembangunan Aceh pada beberapa bidang.

ADIC 2013 dihadiri oleh pihak Kedutaan Besar Repubilk Indonesia untuk Malaysia, jajaran rektorat University of Malaya, dan pejabat penting lainnya. Acara tersebut secara resmi dibuka oleh Wakil Gubernur Aceh. Bertindak sebagai keynote speaker pada forum tersebut adalah Prof. Abdul Razak Ahmad, Penasehat Menteri Pendidikan Malaysia. Hampir separuh dari seluruh penyaji paper di ADIC 2013 adalah para dosen serta mahasiswa S2-S3 yang berasal dari Aceh.

Paper yang ditulis oleh keempat mahasiswa Jurusan Pendidikan Matematika UPI mengambil tema Development of Education, Culture, and Custom. Adapun judul paper yang mereka seminasikan adalah “Study Ethnomathematics: An Alternative Solution For Development of Mathematics Education and Culture in Aceh.

Ditemui di gedung FPMIPA UPI, keempatnya menjelaskan bahwa study ethnomathematics adalah suatu kajian terhadap aktivitas sekelompok masyarakat budaya tertentu, yang oleh peneliti dipandang sebagai sesuatu yang memiliki ide-ide matematis. Hasil kajiannya sangat memungkinkan untuk diaplikasikan dalam pembelajaran matematika di sekolah.

Menurut Salwa Nursyahida, Aceh kaya akan kebudayaan. Study Ethnomathematics sangat mungkin untuk dilakukan terutama oleh para guru matematika di sekolah-sekolah di sana. Selain itu, pasca Tsunami di Aceh, muncul kekhawatiran terkikisnya kebudayaan di tanah Serambi Mekkah tersebut, dan Ethnomathematics menawarkan pelestarian budaya sekaligus pengembangan pendidikan (terutama pendidikan matematika).

Ditambahkan pula oleh Roni Galih Mustika bahwa selama ini matematika dianggap tidak terkait sama sekali dengan budaya. Pengungkapan ide-ide matematis pada aktivitas budaya akan memberikan efek lebih dan motivasi tersendiri bagi pembelajaran-pembelajaran lainnya.

Pentingnya melibatkan unsur budaya dalam proses pembelajaran, dijawab oleh Nilah Karnilah bahwa secara teori, pemahaman siswa diperoleh melalui interaksi, dan interaksi hanya akan muncul pada komponen-komponen yang memang tidak asing bagi siswa. Satu hal yang sudah sangat dikenal oleh siswa sehingga dapat memunculkan interaksi adalah unsur-unsur kebudayaan di lingkungan mereka sendiri.

Kemudian, ketika ditanyakan pembelajaran apa yang didapat selama mengikuti seminar internasional tersebut, Asep Saeful Ulum mengatakan bahwa sudah saatnya UPI mengambil peran utama dalam menentukan arah kebijakan pengembangan pendidikan di Indonesia.

“Selama beberapa hari di Malaysia, kami berkesimpulan bahwa tidak ada rumus umum untuk mengembangkan pendidikan, setiap negara harus menemukan rumus uniknya sendiri. Kami berempat, yang sudah hampir satu tahun mengkaji ethnomathematics, menawarkan pula hal yang sama agar pengembangan pendidikan matematika di Indonesia dikembangkan dari-oleh-untuk Indonesia, salah satunya adalah bermula dari pengamatan budaya,” ungkap Asep. (TEMU)