Mahasiswa Matematika ITB Modelkan Risiko Kredit di Bidang Perbankan

Bandung, math.itb.ac.id – Sembilan mahasiswa Prodi Sarjana Matematika ITB mengikuti program Risk Management Goes to Campus yang diselenggarakan oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Kegiatan yang berlangsung secara bertahap selama bulan April-Mei 2012 ini terdiri dari workshop, lomba Case Study Pembuatan Model Risiko Kredit, dan Karya Tulis.

Pada tahap pertama, kesembilan mahasiswa angkatan 2009 ini mengikuti workshop di  Auditorium Plaza Mandiri pada Kamis, 12/04/12. Mereka menerima materi mengenai risk management, portfolio management, enterprise risk management, dan penjelasan mengenai lomba case study. Kemudian pada Selasa, 01/05/12, kesembilan mahasiswa yang terbagi dalam tiga tim ini mempresentasikan hasil modeling kepada pihak Bank Mandiri dan dosen penguji dari Prodi Matematika, Khreshna Imaduddin Ahmad S., M.Si. Acara yang berlangsung di Ruang Seminar 1 dan 2 Prodi Matematika ini dibuka oleh  Ketua Prodi Sarjana Matematika ITB, Dr. Agus Yodi Gunawan, M.Si. “Dengan workshop dan karya tulis, mahasiswa ini belajar untuk menyelesaikan masalah nyata, terutama di lingkup risk management.”

Setelah melalui serangkaian proses seleksi tersebut, dipilih satu tim yang berhak mewakili ITB untuk bersaing dengan perguruan tinggi lainnya. Tim yang mendapat kesempatan tersebut beranggotakan Aditya Putra Utama, Anto Yuliyanto, dan Muhammad Iqbal.

Matematika Dalam Risk Management

Tujuan lomba Case Study Pembuatan Model Risiko Kredit ini adalah menentukan diterima atau ditolaknya calon debitur yang mengajukan kredit dengan menggunakan model matematika. Aditya, Anto, dan Iqbal menggunakan regresi logistik untuk membentuk model. Hal tersebut dipilih karena terdapat variabel respon, yakni good and bad debitur. Sebelum membentuk model, dilakukan analisis terlebih dahulu terhadap nasabah dan faktor-faktor yang mempengaruhi keberlangsungan suatu bank, seperti likuiditas. Kemudian, mereka melakukan pengkodean data, yakni mengelompokkan data menjadi beberapa aspek, seperti tempat tinggal dan hubungan bank. Mereka juga menentukan data apa saja yang dapat mempengaruhi ketepatan model. Setelah itu, barulah sampai pada tahap pembentukan model.

Membangun model tidaklah mudah dan beberapa mahasiswa memulai dari nol. “Dalam membangun model, tim kami awalnya tidak ada pengetahuan tentang model credit risk. Tetapi kami aktif bertanya ke angkatan yang sudah pernah ikut lomba dan juga minta bantuan dosen. Ada juga yang belajar sendiri, seperti program SAS untuk menyelesaikan model ini,” cerita Aditya.

~ dilihat : 510 kali ~