Kuliah Umum Tentang Korea Selatan

Indeks Berita


Kuliah Umum Tentang Korea Selatan

Posted by admin on 2013-05-22 10:49:16

Kantor Internasional UI dan Korea Foundation mengadakan kuliah umum tentang Korea yang diadakan pada Selasa (21/05) di Balai Sidang UI pada pukul 14.00 – 18.00 WIB. Acara dibuka Prof. Dr. I. Ketut Surajaya, M.A Sekretaris Universitas dan Namjin Zeon, Wakil Presiden Eksekutif Korea Foundation. Ada tiga tema yang disampaikan 3 narasumber, yaitu tentang Perekonomian, politik dan hubungan internasional serta kebudayaan Korea Selatan. Tema pertama dipaparkan adalah “Development of Korean Companies and Business Culture in Korea” oleh Prof. Jongseok Kim. Dalam pemaparannya Prof. Jongseok membicarakan perkembangan dunia perekonomian Korea Selatan mulai dari era penjajahan Jepang sampai saat ini dimana Korea Selatan telah menjadi salah satu pusat perekonomian dunia yang diperhitungkan. Prof. Jongseok menggarisbawahi peranan entrepreneur-enterpreneur generasi pertama yang lahir dalam era 70an dan pengaruhnya dalam perkembangan perekonomian Korea Selatan saat ini, seperti pendiri Hyundai, Samsung, LG, SK, dan POSCO.

Menurutnya, enterprenuer-enterpreneur inilah yang membuat perkembangan ekonomi Korea Selatan bisa semaju sekarang, karena para pengusaha ini sangat berjiwa patriot nasionalisme, tidak mementingkan profit semata, dan mempunyai konsep bisnis “octopus” atau gurita sehingga perusahaan-perusahaan yang mereka dirikan tidak hanya menguntungkan kantong-kantong pribadi mereka, tetapi juga mempunyai misi untuk membangun negaranya sendiri. Inilah sebenarnya kunci keberhasilan pembangunan ekonomi di Korea Selatan, jadi tidak hanya sekedar karena kebijakan pemerintahannya dalam meliberalisasi ekonomi setelah perang dingin berlangsung. Tema yang kedua adalah “Twenty Years of Crisis on the Korean Peninsula 1993 – 2013” oleh Prof. Sangyoon Ma. Tema yang kedua ini banyak memaparkan perkembangan konflik semenanjung Korea antara Korea Utara dan Korea Selatan. Mulai dari bagaimana konflik Utara – Selatan dalam perang dingin mempengaruhi kedua Korea dan bagaimana perkembangan konflik tersebut setelah era perang dingin berlangsung. Era gencatan senjata pada The Sunshine Era (1998 -2007) dan bagaimana upaya gencatan senjata tersebut akhirnya gagal juga dipaparkan. Ia juga mengatakan, unifikasi dari kedua Korea adalah tujuan jangka panjang yang masih tetap ingin dicapai oleh Korea Selatan sebagai sebuah negara, namun untuk jangka pendek dalam mengatasi upaya-upaya provokasi militer oleh Korea Utara, ia menyarankan adanya suatu koordinasi kebijakan serta upaya pembentukan konsensus dari dunia internasional terkait isu keamanan di semenanjung Korea. Diharapkan dengan adanya tekanan dari dunia internasional ini, maka Korea Utara akan lebih berhati-hati dalam mempergunakan kekuatan militernya untuk memprovokasi keamanan Korea Selatan.

Pemaparan tema yang terakhir adalah “The Makings of Korean Wave, Then, and Now” oleh Prof. Kyongmi Danyel Kwon. Dalam pemaparannya, Prof. Kyongmi banyak menampilkan video-video dan foto-foto yang menggambarkan perkembangan dunia hiburan Korea dari era 60-70an dimana dunia hiburan Korea masih sangat jelas berkiblat ke Barat sampai era sekarang ini dimana dunia hiburan Korea Selatan telah mempunyai “warna”nya sendiri yang mulai dikenal diseluruh bagian dunia atau yang dikenal dengan fenomena “Korean Wave”. Dalam pemaparannya, Prof. Kyongmi menggarisbawahi besarnya peranan pemerintah Korea Selatan dalam membawa Korean Wave ini terutama dalam bantuan finansial yang dikucurkan. Pada saat tahun 1997 dimana Korea Selatan mengalami krisis ekonomi, kucuran dana negara justru tercurah paling banyak ke sektor industri hiburan, terutama industri film. Hal ini disebabkan karena pemerintah Korea Selatan saat itu melihat industri film bisa menjadi suatu komoditi yang dijual dan mempunyai nilai timbal balik jangka panjang yang bisa mendukung perbaikan perekonomian Korea Selatan, walaupun pada akhirnya perkiraan inipun meleset, karena justru yang menjamur dan memulai era “Korean Wave” adalah drama TV dan musik (K-Pop). Jadi dapat disimpulkan, peranan kebijakan ekspor budaya yang dilakukan pemerintah Korea Selatan sangat mempengaruhi timbulnya “Korean Wave” sekarang ini. Acara lecture series ini merupakan bagian acara dari kegiatan “Korea Festival in ASEAN” yang diadakan Korea Foundation. Bagian acara lain yang terdapat dalam kegiatan festival ini antara lain adalah sesi workshop, charity concert, film screening, dan performance exhibition yang akan diadakan di negara-negara ASEAN seperti Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam dari tanggal 16 Mei sampai 23 Agustus 2013. Lecture series di Indonesia ini sendiri adalah lecture series perdana dari semua kegiatan di “Korea Festival in ASEAN”, pertanda dimulainya secara resmi kegiatan festival tersebut di wilayah Asia Tenggara. (WND)

~ dilihat : 311 kali ~