Kesetiaan Kabumi Iringi “Dinamika Pendidikan” di TVRI

Bandung, UPI

Masyarakat Jawa Barat tidak asing dengan pertunjukan angklung, termasuk mengombinasikan lagu tradisional dengan berbagai genre lain, termasuk jazz.  UKM Kabumi UPI telah mengisi acara Talkshow “Forum Kita” yang ditayangkan TVRI Jabar (Live), yang disiarkan dari Studio TVRI di Jln. Cibaduyut, Kota Bandung, Kamis (27/6/2013)  yang bertajuk “KKN Tematik”.  Musik live yang disuguhkan ini tidak dengan iringan orchestra yang menggunakan peralatan modern, tapi orchestra dengan iringan musik angklung yang di conductor-i oleh Yan Ramadhan ini membawakan 3 buah lagu yaitu “We Are The World (Arr : Yan Ramadhan), My Way (Arr : Yan Ramadhan) dan Janger lagu daerah bali (Arr : Iqbal Amarullah). Kabumi UPI memang ingin mengangkat pamor angklung agar bisa dikenal luas masyarakat, khususnya anak muda yang kini banyak memilih untuk mengikuti perkembangan kesenian modern ketimbang sekadar mendengar lagu-lagu daerah. Kesenian yang ditampilkan mahasiswa UPI ini mampu memberikan alternatif pertunjukkan angklung dengan konsep berbeda.

Kabumi UPI ini memang gencar memperkenalkan angklung untuk dikenal generasi muda. Hal itu sudah dimulai sejak 1985. Tidak saja di Indonesia, tapi juga Asia Tenggara, Eropa, dan Afrika. Ketua umum Kabumi atau dikenal dengan istilah Lurah, Agung , mengaku berbagai hasil karya Kabumi ini dilakukan untuk menyosialisasikan angklung dengan konsep yang lebih segar. Dengan cara ini, diharapkan akan semakin banyak yang tertarik untuk menekuni angklung.

“Tidak ada yang salah dengan mengikuti perkembangan zaman, tapi jangan pernah melupakan apa yang kita miliki. Kalau milik kita hilang, jangan menyalahkan orang lain karena kita sendiri yang tidak menjaganya,” kata Rahmat (Komunikasi Dan Promosi di KBUMI). Mahasiswa semester V jurusan Pendidikan Teknik Elektro ini mengajak masyarakat untuk lebih sadar akan pentingnya kesenian. Dijelaskan dia, seharusnya orang Indonesia becermin dari pengalaman yang lalu. Ketika batik dan angklung dicaplok sebagai milik bangsa lain. Ini jadi cambuk jika Indonesia sebagai pemiliknya, maka masyarakatnya harus menjaganya.

“Tidak harus angklung, tapi setiap mahasiswa daerah harus menunjukkan keseniannya masing-masing sehingga nantinya masyarakat dunia akan kenal dengan kekhasan kita. Jangan malu, ini yang kita miliki. Jangan juga hanya berdiam. Tidak harus jadi pemain, tapi punya rasa memiliki kesenian daerah sendiri,” tuturnya. Sebagai generasi muda, mahasiswa perlu mengangkat karakter asli Indonesia setinggitingginya. Karena seni budaya merupakan amanat serta warisan yang harus dijaga dan dilestarikan.

Untuk itu, sekelompok anak muda ini terus berusaha memopulerkan angklung, salah satunya mengadakan Lomba Musik Angklung Padeng (LMAP) tingkat SD hingga SMA Se-Nasional yang rutin dilakukan dua tahun sekali. Bukan hanya angklung, gamelan, dan tarian juga menjadi garapan Kabumi. Setiap anggotanya bebas memilih bidang yang ingin dipelajari. UKM terfavorit UPI ini tak hanya menciptakan seniman-seniman andal dibidangnya, tetapi juga mampu menjadi penampilan dan menggarap pertunjukkan yang menarik. (Rahmat Fadillah)

~ dilihat : 329 kali ~