Kemampuan Siswa Dalam Mengapresiasi Karya Sastra Perlu Ditingkatkan

1Bandung, UPI

Berbicara tentang apresiasi sastra, termasuk apresiasi cerita pendek, tidak terlepas dari pembicaraan tentang karya sastra itu sendiri, tanpa adanya karya sastra, tentang apresiasi sastra tidak mungkin dibicarakan. Sejatinya, apresiasi sastra dapat dilakukan dalam kegiatan formal, antara lain, di sekolah-sekolah atau kampus-kampus. Namun, disinyalir bahwa kemampuan siswa atau mahasiswa dalam mengapresiasi karya sastra masih belum memuaskan.

“Kemampuan siswa atau mahasiswa dalam mengapresiasi karya sastra masih perlu ditingkatkan. Oleh karena itu, perlu dicari faktor penyebab masalah tersebut serta upaya penanggulangannya”, ungkap Dr. Ruswendi Permana, M.Hum saat mempertahankan disertasinya pada promosi doktor dalam bidang Pendidikan Bahasa Indonesia, Kamis (5/9/2013) di Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia, Jln. Dr. Setiabudhi No. 229 Bandung.

Dr. Ruswendi Permana, M.Hum harus mempertahankan disertasinya yang berjudul “Keefektifan Model Investigasi Kelompok Dalam Peningkatan Kemampuan Apresiasi Mahasiswa Terhadap Cerita Pendek” di depan sidang promosi doktor antara lain Prof.Dr.H. Syaihabuddin, M.Pd. selaku promotor,  Prof. Dr. Iskandarwassid, M.Pd. selaku kopromotor, dan Dr. H. Andoyo Sastromiharjo, M.Pd. serta Dr. Titin Nurhayatin, MS, dan Dr. Sumiyadi, M.Hum.

Menurut Ruswendi, salah satu upaya untuk meningkatkan kemampuan apresiasi siswa atau mahasiswa, termasuk dalam apresiasi cerpen,  dalam pembelajaran sastra dapat digunakan berbagai model pembelajaran.

“Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan apresiasi sastra yang berupa cerita pendek adalah dengan menggunakan Model Investigasi Kelompok (MIK)”, kata mantan Kepala Humas UPI periode 1997-2007 ini.

Dikatakan Dr. Ruswendi, alasan digunakannya model ini dalam meningkatkan apresiasi cerpen adalah, pertama, ada sinyalemen bahwa pembelajaran sastra di lembaga pendidikan formal masih kurang optimal, hal tersebut terlihat dari minat baca mahasiswa yang masih rendah; kedua, keluhan dalam pembelajaran apresiasi sastra di lembaga pendidikan formal berkisar pada minat belajar, minat membaca, dan menulis sastra mahasiswa, hal ini dikarenakan dosen masih menggunakan pola pembelajaran model konvensional; ketiga, pembelajaran sastra seyogyanya membuat mahasiswa merasa nyaman, menyenangkan dan menantang sehingga sastra dapat menjadi sarana pengembangan penalaran, kreativitas, kematangan pribadi dan keterampilan sosial mahasiswa; dan keempat, untuk mewujudkan idelaisme pembelajaran sastra ini diperlukan reformasi pembelajaran sastra.

2Menurut ia, dalam pembelajaran konvensional, mahasiswa ditempatkan sebagi objek belajar yang berperan sebagai penerima informasi secara pasif, artinya mahasiswa lebih banyak secara individual dengan menerima, mencatat, dan menghapal bahan ajar.

“Akibatnya hasil pendidikan hanya tampak dari kemampuan mahasiswa menghapal fakta-fakta. Meskipun banyak mahasiswa mampu menyajikan tingkat halafalan yang baik terhadap bahan ajar, tetapi pada kenyataannya mereka seringkali tidak memahami secara mendalam bahannya”, ujar Dosen Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah ini.

Berdasarkan kenyataan itu, kata ia, perlu dicari alternatif pemecahan masalahnya, seperti melalui kegiatan yang bersifat nonformal, dengan cara menerbitkan buku karya sastra yang bersifat periodik atau menyelenggarakan kegiatan sastra yang melibatkan para sastrawan bekekrja sama dengan pemerintah, perguruan tinggi dan sekolah-sekolah tentu saja dilaksanakan secara periodik pula.

Sedangkan upaya formal yang dilakukan di sekolah, menurut ia bisa menggunakan penerapan berbagai model pembelajaran yang menarik dan membangkitkan minat para siswa datau mahasiswa. Salah satunya dengan menggunakan Model Investigasi Kelompok, karena dalam model ini memiliki konsep dasar yang bersifat sentral, yakni pemeriksaan (inquiry), pengetahuan dan dinamika kelompok (Joyce, Weil, & Calhoun, 2009;319).

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Ruswendi Permana, M.Hum merekomendasikan yang berkaitan dengan penelitiannya diantarnya, dengan menggunakan MIK, dapat membantu meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam pembelajaran apresiasi cerpen Indonesia dan model tersebut dapat digunakan untuk pembelajaran apresiasi sastra Indonesia lainnya serta dapat diterapkan di pendidikan menengah seperti SMP/MTs dan SMA/SMK/MA. (Deny)