Kecanduan dan Penularan HIV/AIDS Intai Remaja Pengguna Narkoba

shutterstock_306044615

Selasa (20/9/2016), Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) menggelar kuliah umum bertajuk “Masalah Narkoba pada Remaja” dengan pembicara Prof. Dr. dr. Samsuridjal Djauzi, SpPD-KAI, FACP. Acara yang diselenggarakan di Auditorium RIK UI ini dimoderatori oleh Prof. Dr. dr. R. Irawati Marsubrin, SpKJ (K), M.Epid.

Dalam kuliah umum ini, Samsuridjal menyoroti bahaya penggunaan narkoba pada remaja. Hal ini signifikan untuk dibahas karena data yang dikeluarkan oleh United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) di tahun 2013 menunjukkan bahwa pengguna narkoba dari tahun ke tahun terus meningkat.

Menurut Guru Besar FKUI ini, penularan penularan penyakit Hepatitis C dan HIV/AIDS  menjadi salah satu bahaya yang mengintai para pengguna narkoba, terutama bagi pengguna yang menggunakan suntikan. Pasalnya, 62% pengguna narkoba suntik di kota-kota besar di Indonesia menggunakan jarum bekas karena tidak mampu membeli jarum yang baru.

Satu buah jarum dapat digunakan untuk 2-18 orang sekaligus sehingga meningkatkan penularan penyakit. Dari riset FKUI di Puskesmas Kampung Bali Jakarta pada 2006, ditemukan bahwa 90% dari total 552 pengguna narkoba yang menjalani tes VCT terinfeksi HIV/AIDS.

Selain penularan penyakit berbahaya, timbulnya adiksi (kecanduan) juga menjadi salah satu efek samping paling berbahaya dari penggunaan narkoba. Hal ini disebabkan ketergantungan terhadap narkoba yang sangat sulit dihilangkan.

“Dua tahun setelah seorang berhenti mengonsumsi narkoba, ia masih memiliki keinginan untuk menggunakan. Jika dalam fase ini ia berada di lingkungan yang rentan, maka bisa kembali menjadi pengguna,” tutur pakar imunologi ini.

Kecanduan pada obat-obatan terlarang ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain faktor genetik dan lingkungan. Secara genetik, orang-orang yang memiliki reseptor dopamin yang tinggi di otaknya cenderung tidak mudah kecanduan. Sebaliknya, orang-orang dengan reseptor dopamin yang rendah akan lebih rentan terhadap adiksi.

Selain itu, lingkungan di sekitar pengguna juga berpengaruh. Sebuah riset yang dilakukan pada tikus menemukan bahwa tikus yang dikurung sendiri cenderung lebih mudah mengalami adiksi obat-obatan dibandingkan dengan tikus yang berada dalam grup. “Pada manusia, kondisi yang sama juga dapat terjadi. Lingkungan yang suportif dapat mencegah terjadinya adiksi pada pengguna,” ujar Samsuridjal.

Untuk pengguna yang berusia remaja, kondisi teman sepermainan (peer group) juga sangat berpengaruh. Oleh karena itu, di hadapan para mahasiswa baru FKUI yang hadir pada kuliah umum itu, Samsuridjal mengimbau mahasiswa untuk lebih selektif dalam memilih teman dan pergaulan.

Penulis: Dara Adinda Kesuma Nasution

Ilustrasi : shutterstock.com


~ dilihat : 22 kali ~