Kapal Pelat Datar Produksi UI Ini Siap Diluncurkan

Kapal Pelat Datar_websizeMenyadari pentingnya kapal untuk kebutuhan perkuliahan dan riset, Program Studi Teknik Perkapalan, Departemen Teknik Mesin FTUI mendesain dan memproduksi kapal pelat datar. Produksi kapal pelat datar ini diinisiasi oleh Ir. Hadi Tresno Wibowo. Ia tidak bekerja sendiri. Dalam proses pembuatan kapal yang diberi nama Triwitono ini ia dibantu oleh sejumlah mahasiswa, dosen, dan alumni Prodi Teknik Perkapalan FTUI. Kapal yang siap diluncurkan pada 13 Oktober 2014 mendatang tersebut didesain secara sederhana menggunakan pelat baja datar.

Hadi mengatakan, produksi kapal ini memakan waktu satu tahun. Setelah diluncurkan, lanjutnya, Kapal Triwitono siap digunakan untuk kebutuhan perkuliahan dan riset. Dengan kapasitas 30 orang serta dilengkapi pendingin udara dan papan tulis, kapal ini dapat dijadikan sebagai ruang kuliah alternatif bagi mahasiswa. Ia berharap, mahasiswa akan tertarik belajar di kapal tersebut sambil mengitari danau UI.

Ia juga bercita-cita, nantinya UI dapat memproduksi kapal laut yang dapat dimanfaatkan mahasiswa untuk belajar dan berlayar di laut Indonesia. “Mimpinya nanti punya kapal untuk belajar di laut dan untuk berlayar mengenal kekayaan laut,” kata Hadi.

Berangkat dari Kepedulian terhadap Nelayan

Kepedulian terhadap nasib nelayan tradisional memotivasi Hadi membuat kapal pelat datar. Pada Agustus 2012 lalu, kapal nelayan pelat datar produksinya telah dimanfaatkan untuk membantu kerja nelayan Mirasa Sejati di Desa Limbangan, Balongan, Indramayu. Dosen Teknik Perkapalan, Departemen Teknik Mesin, Fakultas Teknik itu berkeingiann membuat satu terobosan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang hidup di pulau atau pesisir.

Menurut Hadi, perguruan tinggi harus mempunyai inisiatif membantu kebutuhan masyarakat pesisir. Dalam hal ini, ia berharap UI dapat menjadi inisiator dalam bidang pelayaran rakyat. Pelayaran rakyat, kata dia, meskipun terlihat sebagai sesuatu yang kecil, sesungguhnya berdampak besar terhadap pergerakan ekonomi di Indonesia sebagai negara kepulauan. Ia berpendapat, pelayaran yang baik dapat menyatukan pulau-pulau.

Saat ini, transportasi di pulau-pulau di Indonesia masih minim. Akses transportasi yang sulit seringkali membuat warga di kepulauan tidak dapat menjangkau berbagai komoditas. Masalah yang ada selama ini antara lain sulitnya aksesibilitas sehingga harga-harga kebutuhan masyarakat menjadi mahal. Ke depan, Hadi berharap kapal pelat datar yang dirancangnya mampu mengatasi masalah di bidang pelayaran rakyat dan memicu perkembangan pulau-pulau.

Pengganti Kapal Kayu Tradisional

Kapal yang mendominasi pelayaran rakyat saat ini adalah kapal tradisional dari kayu. Hadi berpendapat bahwa kapal kayu tidak bisa lagi terlalu diandalkan. Jumlah kayu secara signifikan semakin langka, ditambah kesulitan dalam pembuatan dan perbaikan jika kapal mengalami kerusakan. Fakta inilah yang kemudian membuat Hadi berinisiatif membuat kapal pelat datar dari baja.

Kapal tersebut dibuat dari lempengan-lempengan pelat baja datar. Ia mengakui bahwa bahan dasar kapal pelat datar tersebut mudah didapat. Di samping itu, proses pembuatannya juga mudah, tidak memerlukan waktu yang lama dan biayanya pun terjangkau. Kapal pelat datar ini juga dapat didaur ulang. (KHN)

~ dilihat : 300 kali ~