Kampung Naga, Antara Adaptasi dan Tradisi

04Laporan SANDIE GUNARA

KAMI rombongan mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia sampai di satu daerah yang konon memegang teguh adat istiadat Sunda, Kamis 21 Juli 2016 pukul 15.00 WIB. Angin yang berembus kencang dan hujan lebat mengiringi perjalanan kami waktu itu. Derasnya hujan membuat kami basah kuyup. Suara petir menggelegar, begitupun kilatannya betul-betul menyilaukan mata. Tetapi semangat menapakkan kaki di lembah itu membuat saya bertahan dan menunggu hujan reda. Ya, daerah berlembah itu adalah Kampung Naga, Kabupaten Tasikmalaya. Sayang, hujan lebat terus menerus turun sampai kumandang adzan magrib tiba, sehingga kami memutuskan esoknya untuk turun ke lembah tersebut.

Jumat, 22 Juli 2016 tepat pukul 08.00 WIB, kami sampai di pelataran parkir Kampung Naga. Tak disangka, dalam persepsi kami waktu itu Kampung Naga seperti kampung adat lainnya. Ternyata kami diarahkan oleh warga lokal untuk menghampiri koperasi yang mengelola Kampung Naga. Saat itu kami ditanya, ”Apakah tujuannya untuk wisata atau apa?” tanya petugas koperasi. Wow, dalam benak kami, “Sudah modern nih, ada koperasi”. Karena waktu itu tujuan kami untuk penelitian, maka kami berkata “untuk penelitian”.

Kemudian petugas tersebut bertanya kembali, “Mana surat pengantarnya?”  Betul-betul administratif sekali. Untungnya waktu itu kami membawa surat pengantar penelitian dari LPPM UPI. Mereka pun menunjukkan surat-surat  pengantar dari perguruan tinggi lainnya sudah menumpuk di mereka dengan rapih. 01

Untuk mencapai Kampung Naga memang tidak sulit. Bagi mereka yang memiliki kendaraan sendiri atau sekedar menumpang kendaraan umum, ditempuh selama 2,5-3 jam dari Bandung. Setelah sampai di Kampung Naga, pengunjung tidak perlu khawatir, pelataran parkirnya luas, dijaga 24 jam oleh warga lokal.

Setelah kami mengisi buku tamu dan menyerahkan surat pengantar, petualangan kami dimulai. Memasuki Kampung Naga yang berlembah tidaklah sulit. Jalan sudah ditembok, tidak licin. Tapi menuju ke lembahnya kita harus menuruni anak tangga setidaknya ada seribuan anak tangga. Bagi kami yang baru pertama kali walaupun turun tetapi terasa cape, apalagi naik.

Bagi kami mungkin ini relatif melelahkan, tetapi bagi warga adat tidak. “…tos biasa” katanya. Sikap tak mengeluh dan hidup sederhana tampak dari kehidupan sehar-hari mereka. Seperti tak ada beban hidup. Semuanya sudah ada disediakan oleh alam.02

Antara Adaptasi dan Tradisi

Kampung Naga merupakan salah satu kampung adat di Jawa Barat yang masih memegang teguh adat istiadat leluhurnya. Kampung ini terletak di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Kampung Naga berada di lembah subur dan lalui oleh sungai besar yang bernama Ciwulan. Bila melihat lokasinya, tampak asri dan tertata rapih.

Yang membuat kami takjub adalah walaupun kampung mereka berada di lembah, yang diapit oleh persawahan berundak dan hutan, tetapi menurut warga lokal belum pernah terjadi longsor atau bencana apa pun. Karena mereka memiliki teknik tersendiri dalam mengatur sistem perairannya.

Warga adat Kampung Naga sudah beradaptasi dengan dunia luar. Mereka sudah mempunyai telefon seluler untuk berkomunikasi. “Tetapi kalau habis baterainya, mereka harus naik ke atas lembah ke koperasi untuk nge-charge,”  kata Abah Acup. Ya, di Kampung Naga tidak ada aliran listrik, jadi kalau malam menggunakan alat bantu penerangan petromaks.

Menurut sesepuh mereka, tidak boleh ada aliran listrik, karena takut kebakaran, mengingat rumah mereka terbuat dari kayu yang beratapkan ijuk. Doktrin ini terus dikomunikasikan sampai anak-anak mereka. Tetapi bagi penulis doktrin tersebut hanya sebagai alasan permukaan saja, alasan terdalamnya adalah sebuah kesederhanaan hidup yang tetap mereka pegang teguh. Menurut Kang Entang, kampung bisa saja dialiri listrik, tetapi yang menjadi masalah adalah bagaimana setelah dialiri listrik? Sesepuh takut antar tetangga akan terjadi konflik. Bila yang satu warga adat beli televisi, kulkas dan lainnya, lalu bagaimana dengan tetangga lainnya? Ternyata konsep keadilan sosial lah yang menjadi patokan mereka.03

Anak-anak lelaki mereka yang sudah dewasa, pergi mengadu nasib ke luar kampung, seperti ke Bali, Bandung, dan Jakarta. Rata-rata mereka di luar kampung bekerja sebagi pedagang dan kuli bangunan. Tak sedikit pula yang menetap di kampung yang bekerja di sawah dan ladang. Tetapi ada pula anak mereka yang bersekolah sampai tingkat universitas, sampai ada yang bekerja di pemerintahan bahkan bank, menurut Kang Entang seorang warga adat.

Di satu sisi mereka sudah beradaptasi dengan dunia luar tetapi di sisi lain mereka juga tetap memegang teguh adat istiadat dan melestarikan titah dari leluhur mereka. Adaptasi mereka dengan dunia luar lainnya yaitu mereka bersekolah seperti anak-anak di luar kampung. Sekolah di SD negeri, memakai seragam sekolah dan sebagainya.

Sedangkan tradisi kehidupan yang berasal dari leluhur mereka tetap dipegang teguh. Seperti pola hidup, peralatan hidup, cara bertani dan bercocok tanam, bahasa, religi dan keseniannya. Mereka kukuh terhadap falsafah hidup yang telah diwariskan leluhurnya. Sesuatu yang bukan tradisinya akan dianggap tabu. Bagi yang melanggarnya akan mendapatkan karma.

Menghargai Alam

Menghargai alam merupakan nilai kehidupan yang diwarisi leluhur mereka. Mereka hidup selaras hidup dengan alam. “Ulah dihirupan ku alam, tapi urang kudu hirup jeung alam”. Maka wajar bila mereka tidak pernah kekurangan sandang dan pangan bahkan jauh dari bencana alam.

Kebersamaan dalam hidup juga merupakan nilai yang mereka pegang teguh. Ada Ki Punduh yang mengatur semua kehidupan bermasyarakat di Kampung Naga ini. Misalnya bila ada warga adat yang mebangun rumah, maka warga adat lainnya ikut membantu. Selain itu pengamatan kami selama di Kampung Naga, tampaknya pola rumahnya memiliki pola saling berdekatan, berkelompok, dan saling berhadapan. Ternyata menurut Kang Entang, warga adat memiliki kekerabatan yang sangat erat.05

~ dilihat : 38 kali ~