Jimly Asahiddiqie: “Mahasiswa Harus Melangkah, Setelah Berpengetahuan”

2

Bandung, UPI

Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, M.H. Guru Besar dalam Bidang Hukum Tata Negara Universitas Indonesia dan Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi RI  mengungkapkan, kehadirannya pada pembukaan kegiatan Masa Orientasi Kampus dan Kuliah Umum (MOKAKU) 2013 di Gedung Gymnasium UPI, Selasa (27/8/2013) dapat memberikan motivasi kepada para mahasiswa baru UPI angkatan 2013.

Ia memaparkan sebagai mahasiswa baru pertama patut  bersyukur. Kedua mahasiswa baru harus siap menghadapi banyak masalah.  Ketiga mahasiswa baru jangan membuang waktu, isilah waktu itu dengan belajar.  Keempat bekerja atau bertindaklah, jangan hanya menjadi orang yang memiliki banyak pengetahuan namun  melakukan hal yang bermanfaat bagi orang lain.  Kelima mahasiswa baru harus mengabdi kepada Allah, dan masyarakat dimana ia dapat mengambil pelajaran dari pengalaman  hidup.

Dalam kesempatan itu ia menyatakan rasa bersyukurnya karena mengalami saat menjadi mahasiswa memiliki energi yang positif dan menjadikannya sebagai  mahasiswa yang sukses.  Pengalaman hidupnya yang berasal dari sebuah desa yang miskin dan tamatan sekolah Madrasah yang tidak memiliki status tidak menghalanginya menjadi sosok yang sekarang. Pengalaman hidupnya dengan merasa bersyukur menjadi motivasi awal dalam menghadapi masalah, dan berhenti berkeluh kesah.

Kedua para mahasiswa baru sebaiknya bersiap-siap karena menjadi mahasiswa tidaklah mudah dengan akan dihadapinya beragam permasalahan. “Menjadi ciri masyarakat suatu masyarakat modern untuk bergaul dengan masalah, dan mengatasi masalah.  Jadilah kalian menjadi seorang problem solver. Apabila ada konflik janganlah takut akan tetapi bersedialah menghadapi dan menyelesaikan konflik. Saat ini realitasnya terdapat ciri budaya politik dimana banyak pemimpin yang tidak berani menghadapi masalah, dan menghindar dari masalah. Saat ini bangsa kita membutuhkan kualitas pemimpin yang memiliki kemampuan problem solver. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki penduduk terbesar keempat di dunia, dan merupakan bangsa yang majemuk ditandai dengan memiliki 726 bahasa daerah yang mencerminkan pluralitas bangsa ini. Tentunya mengelola negara ini tidaklah mudah, dan bersiaplah menjadi problem solver.” Paparnya.

1Ketiga bersiaplah untuk  belajar dengan sungguh-sungguh dengan banyak membaca. Sebagai ilustrasi produksi buku di Indonesia saat ini berkisar antara 1000 hingga 3000 judul buku pertahun, hal ini menunjukan budaya membaca buku bangsa ini masih rendah.  Sebagai perbandingan di negara Amerika produksi buku sudah jutaan. Ia menyampaikan ia sendiri sudah menulis 40 buku, namun ia melihat realitasnya para penulis buku tidak dapat hidup dari menulis buku, walaupun ia sudah mendapat penghargaan dari 15 bukunya.  Hal ini disebabkan karena reading habit kita masih rendah.  Ia berbagi pengetahuan bagaimana agar dapat rajin membaca,  triknya adalah dapat membaca masa lalu, masa kini, masa depan. Ia menyarankan untuk mengutamakan membaca fenomena masa kini, kemudian dari hal tersebut mulai berfikir tentang masa depan.  Tentunya hal tersebut membutuhkan referensi masa lalu, karena dengan membaca buku akan menggambarkan rekaman pada masa lalu. Bagi para mahasiswa baru ia menyarankan jangan melakukan hal yang terbalik. Kepada mereka ia berpesan untuk meningkatkan kemampuan untuk membaca  tanda-tanda kehidupan, kemudian barulah dibaca buku-buku yang ditulis oleh para dosen. Hal tersebut digunakan untuk menghubungkan masa kini, dan masa lalu, serta kemudian mulailah merenungkan masa depan. Melalui cara ini maka akan mendorong pembaca mendapatkan referensi dengan cara yang mudah. Pada dasarnya membaca buku adalah suatu keharusan.

Keempat adalah bagaiman membuat waktu kita berkualitas, dengan memiliki kemampuan mengelola waktu.  Berdasarkan pengamatan biasanya kemampuan itu dimiliki oleh orang yang terbiasa sibuk.  Ia menyarankan agar para mahasiswa baru dapat bermanfaatlah bagi orang lain dan rajin bekerja untuk mencari kemuliaan dalam hidup ini, bukan hanya mencari uang dan jabatan. Untuk memberi manfaat bagi orang lain, ia menyarankan agar mahaiswa baru bergaul, dan memahami seluk beluk lingkungan dan kenyataan yang ada. Apabila konteks lingkungan sudah diketahui secara utuh, maka akan lebih mudah untuk bergaul dan bekerja.

“Kelima milikilah niat untuk mengabdi kepada Allah, dan janganlah memiliki cita-cita yang rendah.  Wujudkanlah pengabdian kepada Allah itu dengan mengabdi kepada masyarakat agar bisa menjadi guru atau pemimpin. Pada dasarnya guru itu identik dengan pemimpin, dan guru yang baik adalah pemimpin yang baik, begitu pula sebaliknya.  Ia mengingatkan berdasarkan hadist Nabi Muhammad kita semua adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban.  Pemimpin harus mampu mengerjakan tiga hal, yaitu pertama adalah memiliki kemampuan untuk menata sistem kepemimpinan.  Kedua adalah kemampuan untuk memastikan sistem itu berfungsi.  Terakhir adalah kemampuan memastikan dapat menjadi role model dalam sistem itu. Dalam suatu pemerintahan yang ideal sebenarnya yang menentukan adalah adanya sistem atau peraturan, bukannya pemerintahan yang ditentukan oleh orang yang menjalankan pemerintahannya. Dalam agama Islam sudah ditetapkan bahwa Al Quran menjadi system atau peraturannya, sedangkan Nabi Muhammad adalah role model.  Demikian juga dalam pendidikan bahwa guru adalah menjadi role model yang berperan dalam melakukan hal terpenting yaitu pendidikan afektif.” Itulah pesannya kepada para mahasiswa baru dalam acara MOKAKU 2013 di UPI. (Dewi Turgarini)

~ dilihat : 268 kali ~