J-PAL Asia Tenggara Buka Kantor di UI

Indeks Berita


J-PAL Asia Tenggara Buka Kantor di UI

Posted by admin on 2013-06-26 10:18:22

Pusat penelitian kemiskinan terkemuka di dunia, yaitu Abdul Latif Jameel Poverty Action Lab atau yang lebih dikenal sebagai J-PAL, membuka kantor untuk kawasan Asia Tenggara dengan berpusat di Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LPEM FE UI). Acara peluncuran dilaksanakan pada Selasa (25/06) di Kempinski Hotel Indonesia, Jakarta.

Peluncuran J-PAL Asia Tenggara dihadiri oleh Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono yang memberikan pidato pembuka. Pembentukan J-PAL Asia Tenggara ini sejalan dengan pelajaran yang dipetik dari pembangunan yang selama ini dilaksanakan Indonesia, yaitu bahwa pembangunan harus dapat mengatasi kemiskinan dan dalam pelaksanaannya diperlukan kolaborasi antarpihak. Diharapkan, ke depan akan terjalin kerja sama, khususnya antara Pemerintah dengan J-PAL, dalam upaya pengentasan kemiskinan.

Pejabat Rektor UI Prof. Dr. Ir. Muhammad Anis, M.Met. juga hadir untuk memberikan sambutan. Prof. Anis menyatakan bangga bahwa J-PAL Asia Tenggara membuka kantornya di LPEM FE UI. “Saya percaya bahwa kolaborasi antara J-PAL dan LPEM FE UI mampu meningkatkan penelitian dan tindakan-tindakan untuk menanggulangi kemiskinan, khususnya di Indonesia,” papar dia. Prof. Anis juga mengatakan bahwa UI akan terus berusaha menjadi universitas riset terkemuka dan kemitraan antara UI dengan J-PAL sejalan dengan visi UI untuk menjadi universitas kelas dunia.

Pada acara peluncuran ini juga terdapat pemaparan mengenai J-PAL dan penanggulangan kemiskinan dari beberapa tokoh, yaitu Prof. Dr. Benjamin Olken (Direktur J-PAL Global), Peter Baxter (Direktur Jenderal AusAID), Dr. Jossy Prananta Moeis (Pejabat Dekan FE UI), Dr. Ir. Bambang Widianto, M.A. (Sekretaris Eksekutif Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan [TNP2K]), Prof. Dr. Abhijit V. Banerjee (Direktur J-PAL Global), dan Hector Salazar Salame (Direktur Eksekutif J-PAL Asia Tenggara).

Dr. Jossy dalam sesinya menyatakan bahwa sudah saatnya kita mengubah paradigma dalam memandang permasalahan kemiskinan. Menurutnya, masalah kemiskinan harus dilihat lebih dari sekadar angka dan statistik karena kedua hal tersebut tidak selalu menggambarkan secara tepat kondisi di lapangan. Oleh karena itu, penting untuk menelaah masalah kemiskinan secara kuantitatif dan kualitatif.

Prof. Banerjee menjelaskan mengenai signifikansi data dan evidence sebagai dasar dalam membuat kebijakan. Menurutnya, kebijakan seharusnya didasarkan pada informasi dan bukti di lapangan, bukan pada ideologi.

J-PAL adalah perintis jaringan penelitian internasional yang mengkaji efektivitas implementasi program-program pembangunan, mana yang berhasil dan mengapa tidak berhasil. Berdiri pada 2003, J-PAL bermula sebagai pusat penelitian di Departemen Ekonomi Massachusetts Institute of Technology (MIT). Sejak itu, J-PAL berkembang menjadi pusat penelitian yang menggunakan metode uji acak terkendali (randomized control trial).

LPEM FE UI sendiri merupakan lembaga penelitian, konsultasi, dan pelatihan yang aktivitasnya terkait erat dengan penyelesaian masalah-masalah pembangunan untuk kepentingan masyarakat Indonesia. Secara garis besar, LPEM FE UI dan J-PAL memiliki kesamaan yaitu menganalisa kebijakan pembangunan sehingga memungkinkan kerja sama yang baik dalam mengurai masalah di Indonesia, khususnya masalah pembangunan. (YV)