Indonesia, Sebuah Proyek Psikologis yang Kompleks

shutterstock_207995719

Dalam suasana perayaan Kemerdekaan RI, Fakultas Psikologi UI mengangkat tema rasa kebangsaan dan nasionalisme pada hari jadinya yang ke-56 yang jatuh pada Senin (15/8/2016).

Fakultas Psikologi mengundang Dr. Abdul Malik Gismar untuk memberikan orasi ilmiah pada dies natalis yang berlangsung di Auditorium Gedung H tersebut.

Alumni Fakultas Psikologi yang juga lulusan doktor dari New School for Social Research, New York ini menyampaikan sebuah orasi ilmiah yang berjudul “Indonesia, Sebuah Proyek Psikologis: Menjajaki Kekuatan Kebangsaaan Kita di Era Global”.

IMG_0003

Menurut Malik Gismar, Indonesia merupakan sebuah eksperimen psikologis dan budaya dari founding fathers Indonesia. Founding fathers ini, kata dia, menyadari bahwa Indonesia secara geografis, demografis, politis terdiri dari begitu banyak keberagaman.

Untuk menyatukan keberagaman ini, diperlukan suatu pengikat dan rasa solidaritas yang mempersatukan entitas-entitas dalam satu identitas, yaitu Indonesia.

“Para pemimpin bangsa kita ketika menyapa rakyatnya, mereka bukan menyapa dengan kata “wahai masyarakat” tapi kalimat yang digunakan adalah “saudara sebangsa dan setanah air.” Lihat bagaimana pesan yang berusaha ditanamkan adalah rasa persatuan,” ujarnya.

Imagined community yang berusaha ditanamkan ini semakin kompleks dengan adanya sejarah kolonialisme yang terjadi di bangsa kita.

Kolonialisme membawa dua hal yaitu solidaritas bersama akan nasib sebagai masyarakat yang tertindas, dan yang kedua adalah mentalitas bangsa terjajah.

Mentalitas bangsa terjajah ini tercipta dari proses internalisasi oleh para penjajah yang berusaha menanamkan ke bangsa terjajah bahwa mereka adalah bangsa yang rendah dan bodoh.

Hal-hal yang mula-mula hanya berupa indoktrinasi penjajah, lama-lama berubah menjadi kepercayaan yang terinternalisasi ke dalam setiap diri anak bangsa. Solidaritas bangsa yang tadinya terbangun untuk mencari masa depan yang lebih baik, berubah menjadi sebuah solidaritas yang sulit lepas dari masa lalu.

Namun, Malik Gismar berargumen bahwa identitas bangsa tidak bisa diciptakan semata dari jargon ataupun penanaman nilai. Kebangsaan justru tercipta dari pengalaman sehari-hari sebagai warga negara Indonesia dan sejauh mana hak-hak pendidikan, kesehatan, dan ekonomi terpenuhi oleh negara tersebut.

Mentalitas bangsa terjajah ini sebenarnya telah berusaha dihilangkan oleh para pemimpin bangsa kita. Pada era Soekarno, ada istilah “Manusia Indonesia Seutuhnya” dan “Manusia Indonesia Baru” yang berusaha membentuk citra baru yang lebih positif dari bangsa Indonesia.

Pada era Soeharto, usaha ini juga diwujudkan dalam bentuk pembentukan ide “Identitas Nasional” yang pada akhirnya merepresi dan menghilangkan beberapa budaya kedaerahan yang ada di Indonesia. Ini adalah usaha-usaha para pemimpin bangsa untuk membentuk suatu identitas baru yang lebih positif bagi anak bangsa pasca kolonialisasi.

Apakah hak-hak ini sudah terpenuhi di Indonesia? Menurut Malik Gismar, belum. Di penghujung orasi ilmiahnya Malik Gismar menawarkan tujuh rumusan sebagai kontribusi pemikirannya soal rasa kebangsaan.

Termasuk perlunya kita menegakkan Indonesia yang merekatkan dirinya bukan dengan kesamaan etnik ataupun kesamaan budaya, tetapi rekat karena adanya hak dan kesempatan yang sama dalam meraih kesejahteraan dan hak-hak sebagai warga negara.

Ia juga menekankan perlunya terjadi rekonsiliasi antara identitas nasional dan identitas kedaerahan, sehingga salah satu tidak harus menghilangkan yang lain.

Dari rekonsiliasi inilah kita bisa membangun dan menghadirkan ruang-ruang identitas bersama yang kemudian akan menghasilkan identitas nasional yang lebih positif yang menggantikan mentalitas bangsa terjajah di setiap pikiran anak bangsa.

Penulis : Wanda Ayu


~ dilihat : 32 kali ~