FKG UI Selenggarakan Kursus Penyegar dan Penambah Ilmu Kedokteran Gigi 2013

Indeks Berita


FKG UI Selenggarakan Kursus Penyegar dan Penambah Ilmu Kedokteran Gigi 2013

Posted by admin on 2013-03-22 16:03:41

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (FKG UI) bekerja sama dengan GlaxoSmithKline, salah satu perusahaan farmasi dan kesehatan terbesar di dunia, menyelenggarakan Kursus Penyegar dan Penambah Ilmu Kedokteran Gigi (KPPIKG) 2013. Rangkaian acara KPPIKG dilaksanakan pada 27 Februari-2 Maret 2013 di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan.

Acara yang berada di bawah koordinasi Prof. Armasastra Bahar, D.D.S, Ph.D. selaku Ketua Panitia ini adalah kali ke-16 dilaksanakan. KPPIKG berisikan serangkaian kuliah umum dan seminar yang diselenggarakan dengan tujuan berbagi informasi mengenai perkembangan terbaru seputar kesehatan gigi. Materi diberikan oleh ahli, akademisi, serta praktisi kesehatan gigi terkemuka.

Salah satu pembicara drg. Juan Rafael Antonio Gerardo S. Silva (ahli periodonsia dari Filipina), mengatakan bahwa masalah gusi adalah penyebab utama tanggalnya gigi yang dialami kebanyakan orang dewasa. “Gusi berdarah sering diabaikan dan jarang dianggap sebagai masalah,” ujar dia. drg. Silva menjelaskan, radang gusi atau gingivitis bisa berlanjut menjadi periodontitis atau penyakit gusi akan membuat bakteri menghancurkan selaput (connective tissue) yang menghubungkan gigi dengan gusi sehingga menyebabkan gigi tanggal.

Tanda bahwa gusi mengalami peradangan adalah gusi di pinggir gigi berwarna merah yang tidak wajar. Apabila dilakukan tes probing, gusi akan berdarah. Untuk itu, drg. Silva menghimbau untuk rajin membersihkan gigi. Dia pun menegaskan, “Jangan mengabaikan tanda-tanda radang gusi. Segera cek ke dokter gigi apabila tanda-tanda peradangan muncul.”

Prof. Armasastra juga menekankan, jangan sampai ke dokter gigi ketika penyakit gigi sudah parah. “Dokter gigi bukan tukang cabut gigi! Jangan sampai ke dokter gigi cuma kalau gigi sudah sangat rusak lantas minta cabut gigi. Saya sebagai dokter gigi harus tahu dulu apa masalah di giginya,” dia menjelaskan. Prof. Armasastra pun mengatakan, cabut gigi tidak boleh sembarangan dan merupakan pilihan terakhir. “Apabila masih bisa dilakukan perbaikan gigi, maka pencabutan sebaiknya dihindari. Gigi adalah bagian dari tubuh, berarti dengan mencabut gigi, tubuh telah cacat,” ujar Prof. Armasastra sambil menutup acara. (YV)

~ dilihat : 367 kali ~