Dino Patti Djalal : “Semangat Globalisme, Jurus Menuju Negara Besar”

1

Bandung, UPI

“Jangan pernah berambisi untuk menjadi negara yang paling ditakuti oleh negara lain di dunia. Pada abad ini status tersebut sudah tidak lagi menjadi penting, sekarang yang penting adalah menjadi negara yang disegani dan dihormati,” kata Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat Dr. Dino Patti Djalal saat tampil sebagai narasumber, Senin (16/9/2013), pukul 10.00 WIB, di Auditorium Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Jl. Dr. Setiabudhi No. 229 Bandung.

“Profil Indonesia dimata dunia sudah berubah, tidak lagi sebagai negara yang berada di negara dunia ketiga, Indonesia telah mengambil peran untuk ikut mengubah dunia. Indonesia termasuk negara yang sukses dengan demokrasinya baik dunia maupun Asia Tenggara,” lanjutnya saat memberikan kuliah umum yang bertema “6 Jurus Sakti Indonesia Unggul di Abad 21”.

“Saat ini yang akan didengar dan diikuti oleh dunia adalah mempunyai prestasi di bidang ekonomi, bobot ekonomi menjadi sangat penting karena itu merupakan the pride of a nation. Janganlah menjadi negara peminta-minta, tapi bila diberi ambilah kesempatan itu, hutang dan bantuan bukan lagi menjadi momok bagi profil Indonesia di dunia, kita sudah mampu menduniakan budaya dan produk kita menjadi budaya dunia salah satunya adalah batik”, lanjutnya.

2Dino menjelaskan pandangannya untuk maju, untuk menjadi orang besar dan negara besar diantaranya dengan semangat globalisme, lihatlah globalisme sebagai sesuatu yang positif. Survey mengatakan di China 90% anak mudanya sangat peka terhadap globalisme dan dunia global, disusul oleh India dengan 80%. Globalisme telah memberikan adanya warna baru, adanya perubahan terhadap mindset yang bersifat pragmatis, kreatif dan inovatif, karena seluruh isi dunia ini merupakan aset perubahan, dan jadikanlah sebagai sapi perah.

Indonesia kaya akan sejarah, tapi sayangnya tidak muncul kepermukaan karena tidak terekam. Bagaimana para raja dahulu dengan sistem sosialnya memperlakukan rakyatnya agar sejahtera. Untuk maju bangsa Indonesia sangat perlu forward analysis, analisis tersebut berfungsi untuk mengubah dunia.

Dalam dunia diplomasi, semua negara menjadi munafik, mereka berjuang untuk kemajuan dan kemakmuran negaranya, mereka cenderung tebal muka, tebal telinga, tidak sensitif, dan masa bodoh,” ujar Dino.

Dino mengatakan, kita tidak perlu lagi risau dan terpengaruh terhadap nilai tukar mata uang, sebaliknya kita harus risau terhadap skills kita, dengan skills kita dapat menguasai dunia dan menjadikan dunia menjadi sapi perah bagi kita. Skills merupakan nilai tukar mata uang untuk sukses dan merupakan investasi.

“Human connections juga merupakan satu hal yang menjadikan kita unggul, dengan jaringan yang luas kita dapat menguasai dunia,” tutupnya. (dodiangga)

~ dilihat : 232 kali ~