Chaedar : Pendidikan di Indonesia Harus Bernafaskan Budaya Lokal

a

Bandung, UPI

Liberal Educations yang telah lama berkembang di dunia barat, khususnya Eropa dan Amerika telah terbukti mampu mencerdaskan setiap siswanya, karena hal tersebut memungkinkan setiap siswa untuk mengambil mata kuliah/mata pelajaran sesuai dengan kehendak serta kemampuan dirinya, ujar Prof. H. Adeng Chaedar Alwasilah, M. A., Ph. D., dalam acara launching dan diskusi buku yang ditulisnya.

Dikemukakan Prof. Chaedar, yang membuat mereka cerdas dan mampu menulis adalah dibebaskannya mereka untuk menentukan pilihannya sendiri. Untuk menjadi penulis yang baik diperlukan keberanian untuk tampil tidak sempurna.

Buku yang dijual seharga Rp 107.000,- ini berjudul Islam, Culture, and Education “Essays and contemporary Indonesia”, diterbitkan dalam bahasa Inggris serta berlabel edisi internasional. Hadir Pakar Matematika dari Northern Michigan University Don Faust, Ph. D., dan Pakar Komunikasi Universitas Padjadjaran Prof. Deddy Mulyana, M.A., Ph. D., untuk membahas dan mendiskusikan buku yang diluncurkan di Auditorium sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (SPs UPI) Lt. 5 Jl. Dr. Setiabudhi No. 229 Bandung.

Dikatakan Prof. Chaedar, saat saya kuliah di Amerika, saya mengamati ada artikel yang ditulis oleh orang Belanda, dia membahas tentang Indonesia dengan menggunakan sastra Indonesia bahkan satra Sunda, saat itu saya merasa jengkel karena seharusnya yang mengetahui tentang diri kita adalah diri kita sendiri, ini malah justru orang Eropa. Atas dasar itulah saya ingin menulis tentang Indonesia dalam bahasa mereka yaitu bahasa Inggris. Sudah saatnya kita untuk menunjukan sesuatu pada dunia bahwa kita juga mampu berbuat sesuatu melalui tulisan yang bisa dipahami oleh seluruh penjuru dunia.

Prof. Chaedar mengingatkan pada kita untuk tidak melupakan budaya lokal agar kita tidak kehilangan orientasi. Budaya merupakan sumber pendidikan, sangat sedih rasanya jika orang Indonesia tidak mengenal budanyanya sendiri. Pendidikan di Indonesia harus bernafaskan budaya lokal/memilki kearifan lokal, oleh karena itu antropologi pendidikan jangan diabaikan.

Pakar Komunikasi Universitas Padjadjaran Prof. Deddy Mulyana, M.A., Ph. D., mengatakan, tulisan yang dibuat Prof. Chaedar terasa lembut, sederhana, tidak meletup-letup, dan sangat santun.

Dalam tulisannya saya menyoroti tentang pendidikan Islami yang berbudaya. Pendidikan dan karakter masih menjadi masalah yang krusial, karena tujuan pendidikan yaitu untuk menciptakan manusia manusia yang beriman dan bertaqwa, ujarnya.

Yang kedua adalah pendidikan antar budaya, dimana kemampuan untuk berempati terkikis habis sehingga menimbulkan konflik, karena kita kurang menghargai budaya sendiri. Agar kita memilki kemampuan untuk menghargai budaya lain, hendaknya kita pahami dan hargai dulu budaya leluhur kita, paparnya.

Kita harus hentikan penggunaan bahasa asing yang dipergunakan tidak pada tempatnya, jangan pernah menafikan budaya lokal nanti kita akan menjadi masyarakat yang linglung, karena kita selalu dalam posisi budaya konteks tinggi, orang yang suka hasil daripada proses, paparnya.

Senada dengan Prof. Deddy, Pakar Matematika dari Northern Michigan University Don Faust, Ph. D., mengatakan, Prof. Chaedar telah mendedikasikan hidupnya untuk menolong sesama melalui apa yang ditulisnya. Bukunya sangat bagus, gaya bahasanya pun sangat baik, buku ini dapat mengubah masa depan Indonesia. Apa-apa yang ditulisnya dapat menjembatani jurang pemisah diantara masyarakat, buku ini telah menjelaskan banyak hal.

Prof. Chaedar merupakan seorang filusuf sosial, yang selalu tergerak untuk membantu sesama, dan memberitahu bagaimana cara membangun Indonesia menjadi negara maju yang lebih baik, ujarnya.

Dikemukakan Faust, buku ini menjelaskan nilai-nilai dalam kehidupan bermasyarakat. Fokus untuk mengembangkan masyarakat Indonesia untuk maju menghadapi kehidupan masa depan. Kritik yang dilontarkannya selalu memberikan solusi yang positif.

Buku ini ditujukan untuk masyarakat di seluruh penjuru dunia, karena pesan yang disampaikan selalu memberikan dukungan serta membangun motivasi untuk kehidupan yang lebih baik. Prof. Chaedar selalu berakar pada masyarakat, mengajak hijrah ke posisi yang lebih baik, serta mampu menterjemahkan bahasa dewa kedalam bahasa rakyat. Buku ini menjelaskan berbagai macam permasalahan disertai dengan pemikiran untuk membantu menyelesaikan permasalahannya, paparnya.

Prof. Chaedar telah 13 tahun menulis dalam bahasa Inggris, merupakan seorang pemikir yang selalu mengembangkan penemuan/buah pikirannya menjadi sesuatu yang baru. Dia telah menulis sebanyak 350 artikel dan buku, 30 topik, serta 100 artikel di Jakarta Post. (Dodiangga)

~ dilihat : 335 kali ~