Cerita 3 Kakak Beradik Lulus Doktor UI Bersamaan

Indeks Berita


Cerita 3 Kakak Beradik Lulus Doktor UI Bersamaan

Posted by humas-ui on 2013-08-15 10:02:15

Lahir dari pasangan Agoes Soejono dan Mien Soejono, Donny Tjahja Rimbawan (49), Firman Kurniawan (44), dan Guntur Freddy Prisanto (39) adalah tiga saudara kandung yang secara berturut-turut berhasil lulus dari program doktor di UI. Janjian? Tidak. 3 saudara sekandung itu ternyata memang senang sekolah.

Donny Tjahtja Rimbawan yang merupakan anak kedua dari lima bersaudara adalah doktor yang lulus pertama. Ia lulus sebagai Doktor Ilmu Politik pada tanggal 15 Januari 2013 dengan judul disertasi “Hubungan Negara dan Pengusaha di Era Reformasi-Studi Kasus: Bisnis Grup Bakrie (2004-2012)”. Lima bulan berselang menyusul Firman Kurniawan Sujono, salah satu pengajar Program S-2 Komunikasi FISIP UI yang adalah anak keempat dari lima bersaudara itu, menjadi Doktor Filsafat pada 18 Juni 2013 dengan judul disertasi “Manusia dalam Masyarakat Jejaring-Telaah Filsafat Pemikiran Manuel Castells Tentang Abad Informasi”. Kemudian, jeda satu bulan ada Guntur Freddy Prisanto, sang bungsu yang juga dinyatakan lulus sebagai Doktor Filsafat pada 20 Juli 2013. Guntur lulus dengan disertasinya yang berjudul “Market Justice: Kritik atas Determinasi Pasar Neoklasik”.
Kakak beradik itu senang sekolah. Dibuktikan dari Donny yang tidak hanya kuliah bidang politik, tapi ia sebelumnya juga lulus dari S-1 Akuntansi Universitas Brawijaya dan melanjutkan S-2 Akuntansi dan Politik di UI. Tak berbeda jauh, Firman juga merupakan lulusan Kehutanan IPB, sebelum ia melanjutkan S-2 Ilmu Komunikasi UI dan melanjutkan ke Filsafat UI. Begitupun dengan Guntur yang menyelesaikan pendidikannya di S-1 Manajemen UI, dan S-2 Filsafat UI, juga S-2 Hukum UGM.
Sepeninggal ayah mereka pada tahun 1977, Mien, sang ibu yang pada saat itu masih berusia 36 tahun harus menghidupi 5 orang anaknya seorang diri. Walaupun dengan segala keterbatasan, Mien tetap mendukung pendidikan anak-anaknya. Setiap tahun ajaran baru, karena kenal baik dengan pemilik toko buku dan alat tulis Mien berkesempatan “ngebon”. Firman bercerita, ia dan saudara-saudaranya bebas memilih kebutuhan sekolah mereka yang nanti akan dicicil kemudian oleh Mien.
Firman mengaku, saat ia kecil tidak banyak pilihan yang ada. Misalnya saja, keterbatasan bahan bacaan membuat ia kerap membaca buku pelajaran kakaknya yang tingkat kelasnya lebih tinggi. Firman yang punya kegemaran membaca di gudang rumahnya itu, juga suka mengetik kembali ensiklopedi yang dipinjamkan teman ibunya. Buku-buku sastra juga tak lepas dari pengalaman belajar masa kecil Firman. Ibunya sendiri sebenarnya tidak pernah memaksa ia dan saudara-saudaranya belajar. Motivasi belajar seperti muncul begitu saja seiring dengan keterbatasan mereka pada akses-akses belajar. Firman juga bercerita, ia terbiasa belajar sehabis pulang sekolah sampai hampir tengah malam. Kontan hal tersebut membuat ibunya khawatir. Mien kemudian memberi Firman sejumlah uang agar ia dapat bermain di luar dan berhenti belajar. “Ibu nggak pernah nyuruh saya belajar, malah nyuruh saya berhenti belajar,” kenangnya.
Untuk menghidupi dan menyekolahkan anak-anaknya, Mien Soejono berjualan bermacam-macam barang dagangan, mulai dari bahan pakaian, sepatu, tas hingga keripik kentang. Keripik kentang dijual lewat rumah makan-rumah makan maupun jaringan kenalannya. Usaha itu terus dijalani walaupun pada akhirnya sang ibu bekerja sebagai pegawai klerikal di kantor notaris. Usaha keras ibunyalah yang mengantar Firman dan saudaranya berhasil mencicipi bangku sarjana.
Usaha Mien tak sia-sia karena kini ia tinggal menuai hasilnya. Anak-anaknya telah berhasil di bidang-bidang yang diminatinya. Saat ini Donny, akuntan yang aktif di salah satu partai politik tersebut, mengikuti jejak ibunya dengan mendorong putra-putrinya untuk mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya. Pun halnya dengan Firman dan Guntur, yang terus mendampingi putra-putrinya menggapai cita-cita mereka sesuai passion-nya. (KHN)