Budaya Masyarakat Pengaruhi Sistem Pendidikan Sekolah

3Bandung, UPI

Persoalan disabilitas dapat dilihat dari dua sisi, pertama, dorongan atau paksaan dari legal aspek, seperti yang terkandung dalam undang-undang sisdiknas yang didalamnya  tercantum ayat mengenai pendidikan khusus dan yang kedua adanya dinamika masyarakat yang luar biasa, sehingga layanan pendidikan maupun kegiatan  yang ada di sekolah tidak melayani yang homogen tetapi melayani yang heterogen.

“Sekolah jaman dulu, para peserta didiknya pasti didominasi oleh masyarakat sekitar tempat sekolah tersebut berada, sehingga pola yang diterapkan oleh sekolah tersebut akan dipengaruhi oleh kultur yang berkembang disekitar sekolah tersebut, tetapi sekarang sekolah tidak boleh seperti itu lagi, sekolah sekarang telah dihuni oleh peserta didik yang berlatarbelakang beranekaragam, baik budaya, agama, etnis dan termasuk persoalan –persolalan disabilitas, dengan demikain pola mind set kita pun harus berubah”, kata Prof Sunaryo Kartadinata dalam seminar pendidikan inklusi, Rabu (25/9/2013) di Auditorium JICA FPMIPA UPI, Jln. Dr. Setiabudhi No. 229 Bandung.

Seminar pendidikan inklusi yang bertemakan “Disability Awarnnes and Inclusive Education” ini merupakan hasil kerjasama Jurusan Pendidikan Khusus FIP, Program Studi Pendidikan Khusus Pascasarjana UPI dengan Kedutaan Besar Amerika Serikat Jakarta, yang diselenggarakan dalam rangka dies natalis Prodi Pendidikan Khusus yang ke 50.

Menurut Rektor UPI, kondisi tersebut menggambarkan bahwa pendidikan itu diperuntukan bagi masyarakat yang beragam, oleh karena itu kita harus merubah mind set kita dan membangun sebuah kesadaran terhadap pendidikan khusus.

Sistem pendidikan di sekolah akan dipengaruhi oleh budaya masyarakat dimana sekolah tersebut berada, oleh karena itu pendidikan perlu direformasi. Dengan demikian dampaknya akan membawa pada perubahan-perubahan terhadap pola pikir dan prilaku, ungkap Prof. Sunaryo.

2Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa untuk mereformasi pendidikan diperlukan dukungan dari berbagai pihak baik sebagai warga negara maupun campur tangan pemerintah tentunya dalam hal regulasinya. Sejatinya pendidikan inklusi harus kita pandang dari dua sudut yaitu inklusi sebagai proses dan inklusi sebagai outcome.

Inklusi sebagai proses akan berimplikasi kepada persoalan leadership, pada persoalan manajemen, layanan akademik dan persoalan goverment. Sedangkan inklusi sebagai outcome berarti semua siswa yang beragam disabilasnya itu harus memperoleh suksesi yang luarbiasa. oleh karena itu, sekolah harus mempunyai layanan atau akses yang luas.

“Ini sebuah kultur yang harus dibangun dalam sistem sekolah, dengan kata lain inklusif sebagai proses dan inklusif sebagai outcome”, ujarnya.

Ia berharap dalam seminar ini dapat memberikan pemikiran yang akan mengokohkan keberadaan penyelenggaraan pendidikan inklusi, bukan hanya persoalan disabilitas tetapi terkait dengan keragaman manusia, karena masyarakat kita beragam budaya, agama, etnis, semua itu merupakan kondisi yang sesungguhnya di masyarakat, sehingga ini memaksa kita untuk merubah cara pandang kita terhadap pendidikan. (Deny)

~ dilihat : 306 kali ~