Bawah Putih “Luluskan” Kim, Mahasiswa asal Korea Selatan

Kim-1KISAH legendaris Bawah Putih mengantarkan Kim Ki-In, mahasiswa asal Korea Selatan ini menjadi Sarjana Pendidikan (S.Pd.) pada Departemen Bahasa dan Sastera Indoneisa, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastera (FPBS) Universitas Pendidikan Indonesia. Oleh karena itu, Leo, panggilan akrab Kim Ki-In ini menjadi salah seorang wisudawan dari 2.131 lulusan UPI yang akan dilepas Rektor UPI Prof. Dr. Sunaryo Kartadinata, M.Pd., Rabu, 15 April 2015, di Gedung Gymnasium UPI.

Diberitakan, UPI menggelar sidang terbuka Wisuda Gelombang I Tahun 2015, Rabu, 15 April 2015, di Gedung Gymnasium Kampus UPI Jln. Dr. Setiabudhi No. 229 Bandung. Sebanyak 2.131 orang mahasiswa lulusan jenjang diploma (D3), sarjana (S1), pascasarjana (S2 dan S3), PPG SM3T, dan PPK akan mengikuti upacara wisuda.

Wisuda gelombang I tahun 2015 terdiri atas 14 orang lulusan jenjang Diploma (D3), 1.645 orang jenjang Sarjana (S1), 258 orang jenjang Magister (S2), dan 72 jenjang Doktor (S3). Sedangkan untuk lulusan pendidikan profesi program PPG SM-3T 77 orang, dan 16 orang lulusan PPG Prajabatan SMK Kolaboratif. Sementara itu, dalam wisuda kali ini, UPI juga akan memisuda mahasiswa program kerja sama dari negara Thailand sebanyak 49 orang.

Kim-2Dongeng Bawang Putih

Leo yang lahir di Seoul, 12 Mei 1989 ini membuat skripsi dengan judul, “Kajian Bandingan Dongeng Bawang Merah Bawang Putih dari Indonesia dan Dongeng Kong-Jui Pat-Jui dari Korea Selatan. Dia melakukan penelitian ini karena ada fenomena kemiripan dongeng Bawang Merah Bawang Putih dari Indonesia dengan dongeng Kong-Jui Pat-Jui dari Korea Selatan.

Leo menceritakan, dongeng Bawang Merah Bawang Putih adalah dongeng yang menceritakan tentang seorang gadis yatim piatu bernama Bawang Putih yang tinggal bersama Ibu Tiri dan saudara tirinya, yaitu Bawang Merah. Ibu Tiri memiliki perangai yang buruk. Ia memperlakukan anaknya dengan tidak adil. Setiap hari Bawang Putih melakukan pekerjaan rumah seperti memberi pakan ayam, mencari ranting kayu bakar untuk menanak nasi, memasak, menyapu, menimbun sampah, dan mencuci pakaian.

“Sedangkan Bawang Merah hanya bersolek dan bermalas-malasan. Meskipun Bawang Merah sering bersolek, namun tetap saja ia merasa kalah cantik oleh Bawang Putih,” ujar Leo.

Diceritakan, suatu hari Bawang Putih diperintahkan mencuci pakaian. Ia menemukan seekor ikan menggelepar di daratan. Rupanya ikan itu jatuh dari jalan pencari ikan tanpa diketahui oleh si penjala. Bawang Putih memasukkan kembali ikan tersebut ke dalam air sungai. Ternyata ikan yang ditolongnya adalah ikan dewa. Sejak itu, ikan selalu membantu Bawang Putih menyelesaikan mencuci dengan lebih cepat. Hal itu membuat Ibu Tiri dan Bawang Merah keheranan. Akhirnya Ibu Tiri dan Bawang Merah mengetahui keberadaan ikan itu, lalu menangkap ikan dan memasaknya.

Mengetahui hal itu, Bawang Putih menjadi sedih. Ia menguburkan tulang ikan di depan rumah. Dengan ajaib dari kuburan ikan itu tumbuh sebuah tanaman yang indah hingga menarik perhatian seorang Pangeran Kerajaan yang melintas di tempat itu.

Bawang Merah mengaku menanam tanaman itu. Tapi Pangeran tidak percaya, maka keluarlah Bawang Putih. Kemudian, diceritakan bahwa ayahnya meninggal. Karena kepergian Ayah, Ibu Tiri semakin bertindak semena-mena terhadap Bawang Putih. Ia selalu melakukan pekerjaan berat. Namun ia selalu dibantu oleh binatang, seperti ikan yang dapat berbicara. Dengan bantuan ikan itu, pekerjaan Bawang Putih jadi cepat selesai.

Suatu hari ada undangan pesta dari saudara Ibu Bawang Putih. Namun Ibu Tiri tidak mengizinkan Bawang Putih untuk pergi. Ia ditugaskan untuk diam di rumah. Hal itu membuatnya sangat sedih. Tiba-tiba datanglah seorang peri dan membantu Bawang Putih. Akhirnya Bawang Putih dapat menghadiri pesta itu. Tetapi sepatunya hanyut terbawa arus sungai. Ternyata seorang pangeran yang sedang mengembara menemukan sepatu itu. Ia bertekad mencari pemiliknya.

Tibalah pangeran di desa tempat tinggal Bawang Putih. Ia bertemu dengan Bawang Merah dan menanyakan pemilik sepatu itu. Tentu saja Bawang Merah mengakuinya, tetapi sepatu itu tidak cukup. Akhirnya keluarlah Bawang Putih dan mengakui bahwa sepatu itu miliknya. Ternyata Bawang Putih ada di dalam mimpi Pangeran. Dalam mimpi tersebut, Bawang Putih akan menjadi permaisurinya dan Bawang Merah serta Ibunya adalah orang jahat. Setelah mengetahui hal itu, Bawang Merah dan Ibunya terkena kutukan karena telah memakan ikan dewa.

Dongeng Kong-Jui Pat-Jui

Sementara itu menjelaskan tentang kisas Kong-Jui Pat-Jui, Leo menceritakan tentang Kong-Jui yang hidup bersama dengan ayahnya. Ibu Kong-Jui telah meninggal saat ia masih kecil sehingga ia harus melakukan pekerjaan rumah tangga. Ayahnya selalu merasa kasihan padanya. Maka ia menikah dengan seorang janda beranak satu, nama anaknya adalah Pat-Jui.

Sejak pertama, ibu tiri dan Pat-Jui tidak menyukai Kong-Jui dan selalu mengabaikan Kong-Jui. Meskipun tinggal bersama, ibu tiri memperlakukan mereka dengan tidak adil. Bahkan ketika ayahnya meninggal, beban Kong-Jui semakin berat. Ia harus mengolah lading. Tapi untung saja ia dibantu oleh kerbau. Selain itu ia juga harus mengisi guci dengan air. Ibu tiri dan Pat-Jui memberikan guci yang sudah rusak sehingga guci tak kunjung penuh. Tapi ada seekor katak yang membantu Kong-Jui. Hal itu membuat ibu tiri dan Pat-Jui keheranan.

Waktu berlalu, Kong-Jui dan Pat-Jui pun tumbuh dewasa. Suatu hari Gubernur mengadakan pesta untuk mencari menantu. Namun Kong-Jui tidak diizinkan untuk pergi. Ia diberi tugas menguliti padi dan merajut pakaian. Setelah mereka pergi, datanglah burung pipit untuk membantu. Ia pun meletakkan padi dan mulai merajut pakaian. Ia merasa sedih karena ingin datang ke pesta itu. Kemudian muncullah seorang peri dan membantu Kong-Jui. Peri itu memberikan Hanbok yang cantik dan sepasang sepatu pada Kong-Jui.

Kecantikan Kong-Jui menarik perhatian semua yang hadir di pesta, termasuk Putra Gubernur. Namun ketika Putra Gubernur mendekat, Kong-Jui harus pulang. Ia berlari sampai satu sepatunya terlepas. Putra Gubernur ingin menikahi pemiliki sepatu tersebut hingga ia memerintahkan pengawal untuk mencari pemiliknya. Akhirnya mereka menemukan Kong-Jui. Kong-Jui pun hidup bahagia dengan Putra Gubernur.

Menurut Leo, sastra lisan merupakan terjemahan dari oral literature (bahasa Inggris). Sastra lisan adalah kesusastraan yang mencakup ekspresi kesusastraan warga suatu kebudayaan yang disebarkan secara lisan turun-temurun. Dongeng Bawang Merah Bawang Putih memiliki fungsi proyeksi. Cerita tersebut merupakan proyeksi idam-idaman di bawah sadar dari kebanyakan gadis miskin yang cantik untuk menjadi istri orang kaya, bangasawan, atau orang yang terkenal. Sementara dongeng Kong-Jui Pat-Jui pun berkembang seperti dongeng Bawang Merah Bawang Putih. Cerita tersebut dikenal oleh semua kalangan masyarakat Korea.

Berdasarkan penelitiannya, dongeng Bawang Merah Bawang Putih dengan dongeng Kong-Jui Pat-Jui memiliki banyak kesamaan, namun juga memiliki perbedaan. Adapun perbedaan dan persamaanya antara lain; (1) kedua cerita diawali dengan kehilangan ibu kandung; (2) adanya peristiwa ayah menikah dengan seorang janda beranak perempuan; (3) watak Bawang Merah dan Pat-Jui sama-sama jahat; (4) Bawang Putih dan Kong-Jui digambarkan cantik, penyabar, dan baik hati; (5) adanya hewan yang menolong Bawang Putih maupun Kong-Jui; dan (6) cerita berakhir bahagia.

Adapun beberapa perbedaan diantara kedua dongeng tersebut, yaitu (1) latar tempat Bawang Merah Bawang Putih di kebun dan sungai, sedangkan Kong-Jui Pat-Jui kebanyakan di ladang; (2) hewan yang menolong Bawang Merah Bawang Putih adalah ikan, sedangkan Kong-Jui Pat-Jui adalah katak, lembu, dan burung pipit.

Kim-3Young-San University

Tapi apa pun persamaan dan perbedaannya, skripsi Kim Ki-In telah menandai sebagai sarjana. Kim Ki-In atau Leo adalah anak kedua dari pasangan suami istri, Kim Eul-Yul dan Lee Kyung-Oak. Tahun 1996, untuk pertama kalinya ia mengenyam bangku pendidikan, yaitu memasuki Sekolah Dasar di SD Jwa-san. Tahun 2002, ia melanjutkan sekolah di SMP Singok. Pada tahun 2005 Kim Ki-In melanjutkan sekolahnya ke SMA Sindo.

“Dengan semangat menempuh pendidikan yang lebih tinggi dan dengan dorongan dari orang tua serta keluarga, tahun 2008, saya melanjutkan kuliah di Universitas Young-San jurusan ASEAN Bisnis. Sesudah dua semester, tanggal 11 Mei 2009, saya ikut wajib militer di Korea Selatan selama 22 bulan,” ujar Leo.

Sesudah beres wajib militer, ia kembali ke universitas, dan Januari 2013, ia masuk ke Universitas Pendidikan Indonesia, Jurusan Bahasa dan Sastera Indoneisa untuk mengikuti Program 2+2 (2 tahun di Korea, 2 tahun di Indonesia, atau double degree). Semasa di UPI, Kim Ki-in sempat menjadi anggota subbidang Akademik Hima Satrasia FPBS UPI, dan Universitas Center, Internasional Office UPI. (Wakhudin)