Andy Noya : Kebebasan Pers Gamang

2

Berita, UPI

“Media massa telah menjadi fenomena tersendiri bagi masyarakat saat ini, media massa hadir dimanapun anda berada, media massa hadir mengatur atau mengubah aktifitas, media massa menjadi jalan pintas untuk terkenal atau sukses, dan media massa mereduksi nilai-nilai yang diajarkan di kampus,” ujar Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi Dr. Ridwan Effendi, M. Ed., saat mengisi kegiatan Literasi Media, Selasa (26/11/2013), pukul  13.00 WIB.

Ridwan menambahkan,”Adapun paradigma terhadap media diantaranya didactic paradigm (positivist paradigm, aim to predict human behavior), authentic paradigm (interpretivist paradigm, aim to understand human behavior), dan transformative paradigm (critical paradigm, aim to transformation human behavior).”

Pendidikan atau strategi literasi media melalui psycho pedagogical approach (sekolah/rumah), social-cultural approach (critical mass, pembiasaan), dan law and political approach (law enforcement dan kemauan politik),” ujarnya.

4Kegiatan ini diselenggarakan di Auditorium Lt. 6 Gedung Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS UPI) Jl. Setiabudhi No 229 Bandung, atas inisiasi Komisi Penyiaran Informasi Daerah Jawa Barat (KPID Jabar) dan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), menghadirkan pemandu acara Kick Andy Metro TV Andy F Noya, dan Direktur Metro TV Anggit Hernowo, diikuti 200 peserta mahasiwa, tujuannya untuk memasyarakatkan literasi media untuk lebih mengenalkan mahasiswa terhadap literasi media, oleh karena itu diberi tema “Mencerdaskan Masyarakat Melalui Media: Sinergi KPID, Kampus, Dan Industri Penyiaran”, ujar Ketua KPID Jawa Barat Hj. Neneng Athiatul F, S.Ag., M.Ikom.

Neneng mengatakan,“Ini merupakan kegiatan rutin KPID Jabar setiap tahunnya, dan diselenggarakan di tiap daerah, targetnya adalah kepada mahasiswa yang akan melakukan kegiatan KKN.  Mahasiswa merupakan aset, dan diharapkan dapat menyebarluaskan pengetahuan tentang media kepada masyarakat.”

Andy F Noya dalam kesempatan itu memaparkan tentang “Produksi siaran yang cerdas dan mendidik untuk kesejahteraan masyarakat”. Andy mengatakan,”Kebebasan pers telah membuat gamang, hadirnya fenomena infotainment menjadi ambigu, apakah cameo jurnalistik atau bukan? Karena yang terjadi adalah mereka itu merupakan jurnalis broadcast, seringkali membuat berita tanpa mengkonfirmasi narasumber, dan kebanyakan melanggar etika demi persaingan atau mengejar rating, dan akhirnya euforia kebebasan yang berbicara.”

“Namun impact TV yang bernuasa positif dapat menjadikan orang lain peduli terhadap sesama. Kegiatan positif dapat dikapitalisasi, ini terjadi ketika program acara yang dipandunya mendapatkan donasi 200 juta rupiah dalam dua minggu, artinya bahwa sebuah program bukan hanya menginspirasi tapi juga menggerakan massa,” paparnya.

Anggit Hernowo yang memaparkan tentang memproduksi dan menggunakan media yang benar, menilai,”Kondisi media saat ini bisa dimiliki oleh semua orang, media di daerah telah menjamur dan pekerja media pun otomatis meningkat, sehingga persyaratan kualitas sdm longgar, kode etik tidak mengikat, dan pertimbangan bisnis menjadi yang utama.”

3“Akibatnya, kualitas tayangan menjadi asal on air, kebebasan pers cenderung bersifat liberal, media massa pun menjadi alat kepentingan pribadi. Saat ini pekerja TV tidak mempunyai bekal yang cukup ditambah pengawasan yang kurang dan kalaupun ditegur malah dipelesetkan. Program TV banyak yang serupa atau istilahnya me too program, pornografi dan kekerasan menjadi hal yang biasa,” paparnya.

Anggit menjelaskan, suatu program dapat diproduksi secara langsung (live) atau rekaman (taping). Adapun dasar untuk bisa tayang atau program driver berdasarkan komersial atau rating, image-citra atau sekedar untuk memenuhi regulasi. Terdapat istilah segitiga emas dalam dunia broadcast yaitu antara TV Station(program), Iklan (advertiser, sponsor), dan rating (audience).

“Kesimpulannya, masyarakat sebagai stakeholder yang utama dalam industri TV harus bisa menentukan dan mendorong tersiarkannya program yang baik, benar, dan bermanfaat,” ujarnya. (Dodiangga)

~ dilihat : 323 kali ~